PEWARTA-TAMBORA.COM, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca signifikan di sejumlah wilayah Indonesia, menyusul terdeteksinya Siklon Tropis Nouked serta beberapa bibit siklon tropis yang memengaruhi dinamika atmosfer regional.
Berdasarkan analisis BMKG, Siklon Tropis Nouked dalam 24 jam ke depan diperkirakan berada di wilayah Samudra Pasifik Timur Filipina hingga utara Sulawesi Utara. Dalam kurun waktu 48 hingga 72 jam, siklon ini diprediksi tetap persisten pada kategori 1, dengan kecepatan angin maksimum mencapai 40 knot dan tekanan minimum sekitar 996 hektopascal, bergerak ke arah utara hingga timur laut menjauhi wilayah Indonesia.
Siklon Tropis Nouked menyebabkan peningkatan kecepatan angin hingga 25 knot di wilayah laut Filipina, Filipina bagian utara, dan Samudra Pasifik Timur Filipina. Selain itu, terbentuk pula daerah konvergensi dan perlambatan angin di sekitar sistem siklon tersebut.
BMKG juga mendeteksi bibit siklon tropis 96S yang berada di Samudra Hindia selatan Jawa Timur, dengan kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot. Dalam 48 hingga 72 jam ke depan, bibit siklon ini diperkirakan melemah dan memiliki peluang rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis, dengan pergerakan perlahan ke arah barat. Meski demikian, sistem ini tetap membentuk daerah konvergensi di sekitarnya.
Sementara itu, bibit siklon tropis 97S terpantau di wilayah perairan utara Australia, dengan kecepatan angin meningkat hingga lebih dari 20 knot, terutama di sisi utara pusat sirkulasi. Dalam 48 hingga 72 jam ke depan, peluang berkembang menjadi siklon tropis masih dalam kategori rendah, dengan pergerakan cenderung stasioner lalu ke arah barat hingga barat laut. Bibit siklon ini memicu peningkatan kecepatan angin lebih dari 25 knot di pesisir utara Australia bagian barat Teluk Carpentaria, Samudra Hindia selatan NTT, dan Laut Timor.
Selain itu, BMKG juga memantau adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat daya Bengkulu, yang membentuk daerah konvergensi dan konfluensi dari perairan barat daya Bengkulu hingga selatan Lampung.
BMKG menegaskan bahwa kombinasi dinamika atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan menyebabkan cuaca signifikan di berbagai wilayah Indonesia. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem di Nusa Tenggara Timur, serta hujan lebat hingga sangat lebat di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.
Sementara itu, potensi hujan sedang hingga lebat diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah lainnya.
Untuk prakiraan cuaca kota-kota besar, BMKG mencatat potensi hujan petir di Yogyakarta dan Kupang. Hujan sedang diperkirakan terjadi di Semarang dan Surabaya, sedangkan hujan ringan berpeluang terjadi di Medan, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Bandar Lampung, Serang, Jakarta, Bandung, Samarinda, dan Tanjung Selor. Kondisi berawan hingga berawan tebal diprakirakan terjadi di Banda Aceh, Padang, Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Mataram, dan Palu, sementara udara kabur berpotensi terjadi di Palembang.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terbaru dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari.
Sumber BMKG




