Popular Posts

Kategori

Follow by Email

thumbnail

Diposting oleh On 12:19:00 AM

PEWARTA TAMBORA, JAKARTA - Suara gema wahyu Illahi berkumandang dalam acara penutupan pengajian dan santunan yatim piatu yang telah menyentuh hati jamaah masyarakat dan anggota BPPKB di Pasar Angke, Kelurahan Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat. Kamis (2/5/2019) Malam.

Indahnya toleransi kebersamaan antar anggota dan masyarakat terlihat jelas, saling mendukung satu sama lain demi terselenggaranya acara penutupan pengajian sementara, yang mana BPPKB Unit Pasar Angke sebelumnya setiap malam Jum'at rutin menggelar pengajian bersama.


“Sekarang ini banyak masyarakat dan anak yatim piatu yang sangat membutuhkan perhatian dan kepedulian kita, dan mudah-mudahan dengan adanya kegiatan penutupan pengajian sementara ini dapat menjadikan satu sentuhan khikmah dan manfaat bagi masyarakat dan anak-anak yatim piatu ini," Ujar Ketua BPPKB Unit Pasar Angke H. Tatang Mandala

Ketua BPPKB Banten Unit Pasar Angke dan juga seluruh Pembina serta Penasehat sangat memberikan dukungan penuh yang sangat baik dalam setiap menjalankan kegiatan positif ini, "Kami selaku tuan rumah merasa bersyukur dapat berbagi dalam menyantuni anak yatim dan piatu, dan mudah-mudahan tahun depan bisa lebih bertambah lagi dalam berbagi," ujarnya.


Sementara, Sekretaris BPPKB Unit Pasar Angke Budiyanto, menyampaikan bahwa tujuan dengan dilaksanakan kegiatan ini antara lain agar jalinan silaturahim sesama anggota BPPKB dan masyarakat dapat terus terjalin, terlebih bisa berbagi santunan untuk 150 anak yatim piatu.

Lebih lanjut, melalui pesan Whatsapp Sekretaris BPPKB Banten Unit Pasar Angke Budiyanto sekaligus Sekretaris panitia penyelenggara, menjelaskan, bahwa dengan mempertebal keimanan pada sang maha kuasa pencipta Allah SWT, serta mengerti arti rasa kepedulian antar sesama yang sesuai dengan tuntunan syariat ajaran agama Islam.


“Besar harapan dalam acara ini berguna untuk menggalang kesatuan dan persatuan, sehingga tercipta kerukunan umat islam yang cinta damai sakinah, mawaddah warohmah", tandas Budiyanto

Acara kegiatan ini dihadiri oleh para tokoh masyarakat dan agama juga Tiga Pilar Kel.Jembatan Lima, Kamtibmas Jembatan Lima, Ketua DPC BPPKB Banten Jakarta Barat Abah Haer, Ketua PAC Tambora Acel Syamsudin beserta Jajaran, Ketua PAC Taman Sari Olon Sahara beserta Jajaran, juga Para Ketua Ranting SeKecamatan Tambora

Rep : Budiyanto
Editor : Heri Tambora.

thumbnail

Diposting oleh On 1:26:00 PM

PEWARTA TAMBORA, JAKARTA - Seorang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Wilayah Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Selasa (30/4/2019) diamankan Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kelurahan Roa Malaka. Pasalnya keberadaannya kerap meresahkan warga setempat. Selain itu dirinya juga membawa senjata tajam yang sering merusak pohon.

Kepala Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kelurahan Roa Malaka Jaja, menjelaskan, pada saat diamankan sempat memberontak juga mengacungkan senjata tajam. Namun dengan penuh kehati hatian ia bersama anggotanya berhasil mengamankan tanpa ada perlawanan.

"Memang sangat beratnya menjadi petugas anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tanpa memiliki ilmu bela diri sebagai alat bantu dalam pengamanan diri," ungkap Jaja kepada Media Pewarta Tambora.

Jaja juga menjelaskan, bahwa pada saat akan diamankan orang itu sempat melawan sambil mengacungkan senjata tajam, dengan pendekatan secara preventif, agar orang yang megalami gangguan jiwa tidak menyerang yang tanpa alasan.


Dikatakan Jaja, dalam pengamanannya tersebut, ia bersama angotanya berhasil mengamankan orang yang diduga mengalami gangguan jiwa yang kemudian dibawa untuk diserahkan kepada petugas Dinas Sosial yang sedang berjaga di Taman Fatahillah, Kota Tua Jakarta Barat.

"Pengamanan ini dilakukan sebagai tindak pencegahan agar jangan sampai ada lagi kejadian diwilayah sehingga warga tidak resah lagi," pungkas Jaja mengakhiri.

Rep : H.Lutfi
Ed : Heri Tambora

thumbnail

Diposting oleh On 9:28:00 PM

JAKARTA - Organisasi Gerakan Kebangsaan Relawan Prabowo Sandi (GK RPS) yang dikomandoi oleh Ketua Umum Andy Saputra. AR sangat siap menghadapi ucapan yang disampaikan oleh Gus Yaqut tentang people power akan berlawanan dengan Gerakan Pemuda Ansor.

Demikian ungkap Ketua Umum Andy Saputra, yang juga mantan Wasekjen DPP MKGR Diponegoro, melalui press rilis yang diterima media ini, Selasa (30/4/2019). Ia mengatakan bahwa pergerakan people power adalah gerakan rakyat.

"Sebagaimana kedaulatan yang dimiliki bukan melawan konstitusi justru people power dimaksud menegakkan proses konstitusi secara tepat dan terarah menuju demokrasi yang hakiki, toh itu tidak menyalahi," ungkap Andy.

Dikatakannya, pergerakan rakyat dalam tuntutan ketidakadilan tentang kecurangan Pilpres merupakan hak mereka sepanjang hal itu berjalan sesuai koridor yang ada, apakah Gus Yaqut siap menghadapinya.

"Arah aksi dan tindakan tidak mungkin dilawan dan tidak perlu mengomentari hal-hal yang tidak penting yang akan membawa kegaduhan jangan karena merasa dekat dengan penguasa dan terasa memiliki power, yang bisa menyelesaikan persoalan itu adalah negara bukan GP Ansor," bebernya.

Andy Saputra juga menjelaskan, bahwa Ormas GK RPS adalah organisasi gerakan yang memiliki unsur-unsur pengurus dari akitivis, profesionalitas, akademisi, ormas dan profesi, keberadaan GK RPS lebih mengarah pada penegakkan azas-azas konstitusi negara.

"Nah itu pergerakannya dan lebih siap menghadapi karena kami membangun basis-basis nasionalisme dan patriotisme demi keutuhan negara," terang Andy Saputra.

Andy Saputra juga membeberkan, bahwa intelektualitas pemimpin dapat diukur dari ucapan dan tindakanya, nah itu memiliki nilai.

"Jangan melawan daulat rakyat dan anda akan tertindas," ujar Andy yang lahir dari darah keluarga militer, lebih memahami konsep keutuhan negara. (ril/nr)

thumbnail

Diposting oleh On 11:33:00 PM

PEWARTA TAMBORA, JAKARTA - Bulan suci ramadhan adalah bulan yang agung serta bulan yang penuh mahgfiroh, karena bulan tersebut adalah bulan yang banyak dinantikan oleh banyak umat muslim sejagat raya.

Hal ini pun tak luput dari perhatian segenap para Panitia juga Pengurus Taman Pengajian Al-Qur'an Mushollah Al-Ikhlas yang terletak di wilayah RW.04 Kelurahan Angke dalam menyambut bulan penuh berkah yakni Bulan Suci Ramadhan dengan mengadakan Penutupan Pengajian sementara sekaligus memperingati Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW.

Acara yang dihelat di Halaman Mushollah Al-Ikhlas, di wilayah RW.04 Kelurahan Angke, Tambora, Jakarta Barat, pada Minggu (28/4/2019) tersebut dihadiri oleh Babinsa Kel.Angke Serda Rodhani, Ketua RW.04 Tan Tjoen Bie didampingi Sekretaris RW.04 Narmin, para Ketua RT, FKDM, LMK serta warga sekitar.

Narmin Sekretaris Ketua RW.04 Kelurahan Angke dalam sambutannya mengulas tentang penyelenggaraan Pilpres dan Pileg yang sudah berjalan dengan aman serta kondusif, khususnya di wilayah RW.04 Kelurahan Angke.


Dikesempatan yang sama, Ketua Mushollah Al-Ikhlas Ust.Ummul Mukminin beserta Dewan Guru Ust.Royamin menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh para wali santri dan juga para donatur yang telah membantu terselenggaranya kegiatan tersebut.

Adapun sebagai pembawa Tausiyah disampaikan oleh Ust.Muhammad Syukron Muhiddin yang menceritakan sedikit ulasan tentang perjalanan Isra Wal Mi'raj Nabi Muhammad SAW.

Hingga berita ini disusun, acara giat Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW sejaligus Penutupan pengajian berlangsung lancar dengan diisi berbagai kegiatan diantaranya, Hadroh yang disenandungkan oleh para Remaja Islam Mushollah Al-Ikhlas (RISMA), penampilan Marawis Santri TPA Mushollah Al-Ikhlas dan juga pembagian hadiah lomba serta santunan anak yatim. (YUS)

thumbnail

Diposting oleh On 10:04:00 PM

PEWARTA TAMBORA, JAKARTA - Viral pengunjung Starbuck terlihat panik saat melihat kobaran api yang menghanguskan  mobil minibus, kini sejumlah video pun beredar via WhatsApp, Minggu, (28/4/2019) sekira pukul 19.15 WIB.

Dikabarkan, Satu mobil minibus ludes terbakar di area parkir Starbucks Muara Karang, Pluit, Jakarta Utara, pada Minggu (28/4/2019) malam. Belum diketahui penyebab terbakarnya mobil minibus tersebut.

Dilansir dari akun Twitter resmi Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta, @humasjakfire, diketahui petugas menerima laporan peristiwa terbakarnya mobil minibus tersebut pada pukul 19.15 WIB. Selang tujung menit kemudian, satu mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi untuk menjinakkan si jago merah.

Tak butuh waktu lama, amuk si jago merah berhasil dijinakkan hingga tidak merambat ke kendaraan ataupun bangunan di sekitar

"#InfoKebakaran Minggu, 28 April 2019 • Terima Berita 19.15 • Unit Tiba 19.22 • Jl. Muara Karang Raya Kel. Pluit Kec. Penjaringan Jakut • Pengerahan 1 Unit • Objek Kejadian Mobil • Situasi Pendinginan 19.26 • Selesai 19.53," kicau akun @humasjakfire.

Hingga berita ini dilansir, Kanit Reskrim Polsektro Penjaringan, Kompol Mustakim mengatakan, mobil yang terbakar sudah dipadamkan petugas pemadam kebakaran."Belum tahu penyebabnya apa. Pemilik mobil sedang daam perjalanan ke Polsek untuk dimintai keterangan," ucapnya (ril)

thumbnail

Diposting oleh On 9:31:00 PM

PEWARTA TAMBORA, Madiun, Babinsa Mojorejo Kopka Yudi Riyawan, anggota Koramil 0803 / 13 Kebonsari Kodim 0803 / Madiun bersama Bhabinkamtibmas Mojorejo melaksanakan Komsos dengan Tokoh Masyarakat Bapak Edi (58 th) warga RT 13/05 Desa Mojorejo Kec Kebonsari Kab Madiun, minggu (28/04/2019)


Kopka Yudi Riyawan mengatakan, “Kegiatan ini untuk mempererat tali silaturahmi dan kerjasama yang baik dalam rangka mendukung Tugas Pokok Babinsa serta mewujudkan Kemanunggalan TNI-Polri dengan Rakyat,” jelasnya

“Dalam bertetangga kita harus ringan tangan, saling bantu membantu dalam berbagai hal positif dan juga yang mungkin sedang kesusahan, kita tidak boleh egois dan sombong,” imbuh Babinsa Mojorejo



“Terutama komunikasi sosial dengan harus dilaksanakan dengan rutin dan berkesinambungan, karena melalui hal tersebut kita juga bisa memantau permasalahan di lingkungan,” pungkas Kopka Yudi Riyawan

Tokoh Masyarakat Bapak Edi juga menambahkan, “Selain itu juga untuk menjaga hubungan yang harmonis antara Babinsa dengan masyarakat, silahturohmi ini juga sangat bermanfaat untuk saling bertukar pikiran dengan Babinsa tentang keadaan lingkungan Desa ini,” ungkap Bapak Edi (mc0803)

thumbnail

Diposting oleh On 8:24:00 PM

Ketua Umum PPWI Nasional Wilson Lalengke, (pertama dari kiri)
Jakarta - Banyak orang besar, atau yang memiliki potensi untuk menjadi orang besar, mengalami kegagalan bukan karena hambatan dan masalah besar, melainkan terjerembab hanya oleh karena kerikil-kerikil kecil yang mengganjal perjalanan kerjanya.

Demikian juga dalam dunia tulis-menulis. Teramat banyak orang gagal karena masalah-masalah sepele yang luput dari perhatiannya. Tidak terhitung jumlah tulisan, berita, artikel, dan lain sebagainya yang dengan terpaksa "mental" dari meja redaksi surat kabar hanya karena kesalahan dua atau tiga kata yang salah tulis atau salah ketik.

Jangan pernah berpikir jika tulisan-tulisan yang Anda kirim ke redaksi sebuah surat kabar, majalah, atau penerbit, yang dikembalikan kepada penulisnya melulu karena tulisan tersebut tidak bermutu.

Harus diyakinkan pada diri sendiri bahwa tulisan Anda itu berkualitas tinggi, setidaknya bagi diri sendiri sebagai pembuatnya. Jika akhirnya ditolak oleh sebuah atau berbagai media massa, umumnya alasan penolakan itu berputar pada: esensi tulisan yang berbeda dengan misi media dan yang terbanyak adalah karena kesalahan kecil berupa salah ketik dan penggunaan kata/bahasa dalam tulisan yang kurang tepat.

Jurnal ilmiah, baik nasional apalagi internasional lebih ketat lagi. Editor jurnal ilmiah internasional mempersyaratkan kesalahan ketik hanya boleh tiga (3) kali dalam sebuah tulisan. Artinya, saat seorang editor membaca tulisan ilmiah Anda dan tiba pada kesalahan ketik yang ke-4, maka dengan segera tulisan tersebut akan dilempar ke tong sampah, tidak perduli apakah substansi tulisan tersebut penting atau tidak.

Bahkan bila teramat penting pun, tulisan ilmiah itu akan segera dikembalikan kepada Anda untuk diedit, direvisi, atau diperbaiki lagi. Dalam kasus terakhir ini, yang pasti kredibilitas tulisan dan penulisnya telah mengalami degradasi dan sulit untuk bersaing dengan tulisan-tulisan ilmiah kiriman penulis lainnya.

Mengedit dapat diartikan sebagai kegiatan membaca kembali sambil menemukan kesalahan-kesalahan redaksional sebuah tulisan. Proses ini biasanya dilakukan oleh diri sendiri terhadap tulisan sendiri dan oleh editor berbagai media massa--harian, mingguan, tabloid, majalah, online dan lain sebagainya.

Kegiatan edit-mengedit terlihat sepele sehingga tahap ini sering sekali kita abaikan. Padahal, pengalaman hampir semua penulis besar mengungkapkan bahwa proses editing adalah sebuah tahapan menulis yang menjadi salah satu kunci sukses mereka menjadi penulis ternama. Editing adalah kunci pertama untuk memprediksi apakah seorang penulis bakal sukses atau tidak.

Oleh karena itu, dalam setiap kali menulis, senantiasalah melakukan proses editing minimal tiga kali sebelum sebuah tulisan dikirimkan ke redaksi atau ditayangkan di media Anda. Walau sudah demikian ketatnya melakukan editing, tidak jarang masih juga terdapat kesalahan ketik; kesalahan pemenggalan kata, kalimat, dan paragraph; kesalahan tanda baca; dan lain sebagainya.

Ada penulis yang beranggapan bahwa berhubung ada tim editor pada setiap surat kabar atau media massa sehingga setiap penulis boleh saja mengirimkan tulisannya kepada redaksi tanpa harus diedit alias masih amat mentah, belum terverifikasi ketepatan kata, tanda baca, pemenggalan kalimat, dan lai-lain.

Pendapat ini ada benarnya tetapi bila Anda terbiasa melakukan editing dan terutama memastikan bahwa tulisan Anda terhindar dari kesalahan-kesalahan redaksional kecil, maka keuntungan itu tidak akan dinikmati oleh orang lain, melainkan oleh diri Anda sendiri.

Keuntungan itu antara lain berupa pesan Anda dapat ditangkap dengan baik oleh editor dan pembaca, disiplin tulis-menulis Anda akan semakin meningkat dan berimbas kepada karakter kepribadian Anda yang baik dalam menghadapi tugas-tugas lain, dan tulisan tersebut akan cepat dimuat atau ditayangkan di media massa sasaran karena sudah bersih dari kesalahan-kesalahan redaksional.

Untuk membantu Anda, para penulis pemula, berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengedit tulisan disesuaikan dengan pengalaman kesalahan editing tulisan-tulisan di berbagai media, terutama online, selama ini.

Dalam memahami dan menerapkan ketentuan-ketentuan ini perlu ditunjang oleh keinginan Anda untuk belajar tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Melalui pola ini, Anda bekerja dengan modal berbahasa yang berkualitas tinggi.

Ketentuan-ketentuan di bawah ini pun, hanya sekumpulan kecil dari hal-hal yang perlu diketahui, dipahami, dan diterapkan oleh seorang penulis. Mempelajari dan menambahkan dengan ketentuan atau kaidah penulisan yang baik lainnya menjadi tugas kita bersama.

Kesalahan pertama yang sering dan mudah dijumpai adalah kesalahan menempatkan posisi tanda-tanda baca, seperti tanda "titik", "koma", "titik dua", "titik koma", dan lain-lain. Fungsi titik pada umumnya adalah untuk mengakhiri sebuah kalimat sehingga setiap kalimat yang sudah selesai perlu diberi tanda titik (.)

Tanda ini dibuat segera setelah kata yang terakhir pada kalimat itu tanpa diantarai oleh spasi, alias menempel pada kata terakhir. Misalnya: "Kucing itu memanjat pohon untuk menangkap burung.", bukan "Kucing itu memanjat pohon untuk menangkap burung ." Perhatikan tanda titik yang dibuat setelah kata "burung".

Setelah tanda titik, diharuskan memberikan spasi (jarak antara) untuk memulai kalimat baru. Misalnya: "Kucing itu memanjat pohon untuk menangkap burung. Dia berusaha memanjat dengan mengendap-endap agar tidak terdengar oleh sang burung sasarannya."

Perhatikan dengan seksama tanda titik setelah kata "burung" segera diikuti tanda antara (spasi). Khusus tanda jarak antara atau spasi ini, perlu diletakkan tidak hanya di antara setiap 2 kata, tetapi juga setelah tanda-tanda baca (titik, koma, titik dua, titik koma, tanda seru, tanda tanya, dan lain-lain).

Tanda koma (,), titik dua (:), titik koma (;), dan tanda baca yang lain seperti tanda tanya (?), tanda seru (!), diletakkan segera atau menempel pada kata yang mendahuluinya. Misalnya: "Ketiganya adalah Andy, Anna, dan Anggun." Perhatikan tanda koma yang diletakkan segera tanpa spasi setelah kata Andy, Anna, dan Anggun.

Demikian juga dengan tanda-tanda baca lainnya, misalnya (contoh:), (saya;), (mengapa?), (pergilah!) ("dia sedang bepergian"), dan seterusnya. Khusus tanda kurung (...), tanda kurung pembuka diletakkan segera sebelum kata atau menempel pada kata yang akan mengikutinya; dan tanda kurung penutup diletakkan segera sesudah kata yang mendahuluinya.

Demikian juga dengan tanda petik ("... "), tanda petik pembuka ditempelkan pada kata yang akan mengikutinya, sedangkan tanda petik penutup ditempelkan setelah kata yang mendahuluinya. Namun perlu diperhatikan bahwa bila kalimat yang dalam tanda petik itu adalah sebuah kalimat langsung yang diikuti tanda titik, maka tanda baca titik itu harus diletakkan sebelum tanda petik penutup. Misalnya: dia berkata "Kami akan segera ke sana." Perhatikan tanda titik yang ada di dalam tanda petik.

Kesalahan editing lainnya yang sering sekali muncul dari artikel-artikel penulis, baik penulis pemula maupun profesional adalah "salah ketik". Seperti sudah disebutkan di atas, kita tidak terlepas dari kekurangtelitian pengetikan ini. Misalnya, kata "bisa" tertulis "bias", kata "hukum" menjadi "hokum", "menganggap" menjadi "mengangap", dan seterusnya.

Kesalahan-kesalahan ketik seperti contoh berikut ini lebih fatal akibatnya karena merubah makna. Oleh sebab itu perlu benar dihindari agar pesan yang ingin disampaikan tidak harus hilang oleh kesalahan ketik. Contohnya: kata "tetapi" menjadi "tetap", kata "memang" menjadi "menang", kata "busung" menjadi "burung", dan lain-lain.

Perlu diingat bahwa dalam melakukan editing, penulis juga perlu memperhatikan kaidah-kaidah bahasa yang berlaku. Contoh kesalahan yang sering terjadi adalah penempatan spasi di antara suku kata "di" dan kata yang mengikutinya, seperti "di bahas" yang seharusnya "dibahas", "di rekam" yang mestinya "direkam", "di balas" seharusnya "dibalas", dan lain-lain.

Satu kunci sederhana untuk menentukan apakah suku kata "di" itu perlu dipisahkan dari kata dasarnya adalah apakah kata setelah "di" itu merupakan kata benda, keterangan tempat dan keterangan waktu atau bukan. Misalnya "di sekolah" bukan "disekolah".

Perhatikan bahwa sekolah adalah kata keterangan tempat sehingga kata itu dipisahkan dari partikel (disebut preposisi) "di" yang mendahuluinya. Namun akan berbeda jika suku kata "di" itu berfungsi sebagai awalan (prefix), semisal "disekolahkan", bukan "di sekolahkan".

Demikian juga untuk keterangan waktu, partikel "di" harus dipisah dari kata dasarnya. Contoh: "di siang hari", "di bulan Januari", "di masa lampau", dan sebagainya.

Kapan kita gunakan suku kata "di" yang tersambung dengan kata dasarnya? Setiap "di" yang diikuti kata kerja, harus disambung. Contoh: "baca" adalah kata kerja, ketika ditambahkan suku kata "di", menjadi "dibaca". Pada kata kerja "baca" ini, "di" dikenal sebagai imbuhan (ingat pelajaran SD tentang awalan, sisipan, akhiran). Contoh lainnya: "dimakan", "dipuji", "dibungkus", dan lain-lain.

Berkenaan dengan komitmen PPWI yang akan terus-menerus mendukung semua orang menjadi penulis atau pewarta, maka amat wajar jika terdapat banyak sekali tulisan dari para pewarta warga yang masih belum sesuai dengan ketentuan tata bahasa Indonesia.

Namun demikian, jangan berkecil hati karena semua itu dapat diatasi secara perlahan-lahan, terutama karena dukungan Anda sebagai penulis dan pewarta, para pembelajar yang akan terus belajar mengetahui dan memahami tata bahasa kita sendiri, Bahasa Indonesia. Sebab itu, menyempatkan diri mempelajari peraturan ketatabahasaan Indonesia adalah mutlak bagi seorang pewarta warga.

Anda boleh saja melakukan kesalahan hari ini, entah salah ketik, salah tata bahasa, dan lain-lain. Namun satu hal yang tidak boleh terjadi jika kesalahan itu harus terulang pada tulisan Anda berikutnya.

Penyesuaian tulisan kita terhadap peraturan kebahasaan diperlukan tidak hanya untuk meningkatkan kualitas tulisan Anda tetapi juga dalam kerangka membiasakan diri sendiri dan bangsa Indonesia berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Oleh : Wilson Lalengke