Popular Posts

Kategori

Follow by Email

thumbnail

Diposting oleh On 12:11:00 AM


PEWARTA-TAMBORA.COM, Peristiwa kecelakaan maut kembali terjadi di Jalan Raya Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Sebuah minibus yang mengangkut puluhan wisatawan asal Jakarta terperosok ke dalam jurang. Dilaporkan sementara sebanyak puluhan orang penumpang meninggal dunia, Sabtu (08/9/2018) sekira pukul 12.03 WIB

Adapun kronologis kejadian Rombongan Bus pariwisata (Rombongan Catur Putra Raya) dari Bogor yg akan berkunjung ke Bravo (Arus liar) dalam rangka liburan (Getring), beriringan sebanyak 5 Bus jumlah keseluruhan sekitar 200 orang, sebagian rombongan menggunakan Ran pribadi.

Bus terakhir tertinggal oleh rombongan bis lain dan ketika di turunan dekat Leter S diperkirakan Bus remnya Blong sehingga pengemudi tidak bisa mengendalikan kendaraannya dan mobil meluncur ke jurang dng ketinggian sekitar 30 meter.

Seluruh korban langsung di evakuasi dengan menggunakan dua unit mobil ambulance Puskesmas Cikidang, sebagian di evakuasi di puskesmas cikidang dan sebagiannya di bawa ke Rs. Sekarwangi Cibadak  

Jumlah penumpang dalam bis tsb sekitar 30 orang dan 10 orang diperkirakan meninggal di tempat dan msh dilakukan evakuasi, Evakuasi msh dilakukan krn msh ada yg terjepit di dalam bis. - Untuk data korban menyusul. Perkembangan di monitor dan dilaporkan pada kesempatan pertama.  

Korban meninggal  Saepul Bahri (45 tahun) alamat Kalideres, RT 08/01, Kelurahan/Kecamatan Kalideres Jakarta Barat.  

Korban selamat  Usup Supriyadi (45) warga Karangan, RT 05/08 ,Kelurahan Jatiraben, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi.Sayuti warga Kampung Srengseng, RT 07/06, Kelurahan Srengseng, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. 

Harmiyati (54) warga Kampung Ciledug, RT 02/05, Kelurahan Sudibmardinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Susiana (47) warga Jalambar Utara Blok C No 53, RT 05/06, Kelurahan Jelambarbaru, Kecamatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Nurali (47) warga Jalambar Utara C No 53, RT 05/06, Kelurahan Jelambar Baru, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Budi Sushanto (42) warga Kapuk Pedongkelan, Pasar Timbul, RT 10/15, Kelurahan Kapuk Cengkareng, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.

Yadi (47) alamat Jalan Kebonpilih RT 02/01, Kelurahan Sepuruh, Kecamatan Sabang, Kebumen. Susi (55) alamat Jalan Taman Meruya Ilir, RT 02/02, Kelurahan Meruya Utara, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. 

Anton Sitanggang Jalan Lapangan Tenis, RT 05/05, Kelurahan Srengseng, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Indri Noviana, Jalan H Naba II, RT 04 RW 05, Kelurahan Karang Timur, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang. 

Arsad, warga Jalan Kemanggisan Raya, Gang Haji Marjuki, Kecamatan Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat. Ranti Fahlia Hapsari warga Kemayoran, Jakarta Pusat. Siti Rustimah, warga Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat.

Limah Rustimah warga Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Dedi Suhardi, Kelurahan Sudimara, Kecamatan Ciledug, Tangerang. Hartati, warga Kelurahan Tanjungduren, Jakarta Barat. Samsudin warga Kelurahan Bojong Nangka, Kecamatan Kelapa Dua, Tangerang. Suryati, warga Kelurahan Cikokol, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang. (ril/kn)

thumbnail

Diposting oleh On 11:43:00 PM


Kabupaten Sukabumi – Peristiwa kecelakaan maut kembali terjadi di Jalan Raya Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Sebuah minibus yang mengangkut puluhan wisatawan asal Jakarta terperosok ke dalam jurang. Dilaporkan sebanyak 17 orang penumpang meninggal dunia.

Kecelakaan maut pada Sabtu siang itu terjadi di jalan menikung yang berada di wilayah Bantar Selang, Desa Cijambe, Kecamatan Cikidang. Armada angkutan jenis 3/4 ini membawa puluhan karyawan PT Catur Putra Group (CPG) menuju kawasan obyek wisata arung jeram di wilayah Cikidang.


Informasi dihimpun, rombongan karyawan PT CPG ini bertolak dari Kemang, Bogor menunju Cikidang dengan menggunakan empat unit minibus. Seluruh kendaraan tersebut melaju secara beriringan. Saat memasuki jalan Bantar Selang, bus yang berada paling belakang pada konvoi tersebut mengalami hilang kendali.

Belum diketahui penyebab terjadinya musibah tersebut. Namun dari dugaan sementara, sang pengemudi tidak bisa mengendalikan laju kendaraannya saat melintasi jalan menurun serta menikung hingga akhirnya terlempar ke luar lintasan dan berakhir di dasar jurang berupa areal perkebunan pisang dengan kondisi tebing yang tidak terlampau curam.

“Jumlah penumpang di dalam bus itu sebanyak 31 orang, ditambah dua orang awak bus,” ungkap Beni, salah seorang rombongan PT CPG. Saat kejadian, Beni berada di dalam bus yang berbeda.

Hingga berita ini ditulis data mengenai jumlah korban luka maupun korban jiwa masih simpang siur. Aparat kepolisian Polres Sukabumi dibantu warga sekitar masih melakukan evakuasi para korban. Pada umumnya, mereka dilarikan ke RSUD Palabuhanratu. (Beno)

thumbnail

Diposting oleh On 11:19:00 PM


PEWARTA-TAMBORA.COM, JAKARTA - Sebanyak 22 anak remaja kocar kacir di Jalan Tubagus Angke, Grogol Petamburan Jakarta Barat.

Mereka tak berkutik lantaran aksi tawurannya digrebek Petugas kepolisian dari Tim Pemburu Preman (TPP) Polres Metro Jakarta Barat dibawah pimpinan Ipda Ruben George bersama anggota patroli Polsek Tanjung Duren dan Kodim 0503 Jakarta Barat, pada sabtu (11/08) dini hari.

Atas peristiwa itu, polisi mengamankan 22 pemuda, Ipda Ruben George mengatakan, sebelumnya Tim Pemburu Preman telah membubarkan segerombolan pemuda yang tengah asyik kumpul-kumpul hingga larut malam

Setibanya di Jalan Tubagus Angke, TPP yang bergabung dengan anggota patroli Polsek Tanjung Duren dan anggota Kodim 0503 Jakarta Barat menemukan sekelompok pemuda yang melakukan aksi tawuran

Tanpa buang waktu lama, polisi menyalakan sirine hingga membuat puluhan pemuda tersebut lari terbirit-birit "Ada 22 remaja yang kita amankan, mereka diduga akan tawuran," Ujar Ruben.

Selama dilakukan pemeriksaan, lanjutnya, Tim menemukan dalam aksi tawuran tersebut direkam menggunakan kamera handphone milik seseorang pelaku tawuran tersebut yang dicurigai sudah melakukan tawuran.

"Kita serahkan 22 anak remaja tersebut ke piket Polsek Tanjung Duren guna untuk proses lebih lanjut," (ril/red).

thumbnail

Diposting oleh On 11:05:00 PM


Anak-anak Pengungsi Gempa Lombok Dihibur Kak Seto dan Dompet Dhuafa

PEWARTA-TAMBORA.COM, LOMBOK, NTB - Masa tanggap darurat bencana gempa bumi Lombok telah diperpanjang Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi menjadi 14 hari, terhitung dari tanggal 12 hingga 25 Agustus 2018.

Data yang dihimpun Dompet Dhuafa memperkirakan Gempa yang melanda wilayah Nusa Tenggara Barat telah mengakibatkan 67.875 unit rumah rusak, serta merusakkan 468 sekolah.

Sejak hadir dalam respon bencana di Lombok 29 Juli 2018 lalu, Dompet Dhuafa telah melakukan aktivitas pendidikan di sejumlah titik pengungsian.

Sebab, gempa berkekuatan lebih dari 6,2 skala richter yang mengguncang berturut-turut tanggal 29 Juli 2018, dan 5 Agustus 2018, membuat banyak fasilitas sekolah mengalami kerusakan yang cukup parah.

Oleh karena itu, Dompet Dhuafa menginisiasi Program Pendidikan dengan mendirikan Sekolah Darurat di sejumlah titik lokasi bencana di Lombok.

“Di Sekolah Darurat ini, belum dilakukan kegiatan belajar mengajar layaknya di sekolah pada umumnya. Sekolah Darurat melakukan pendekatan kepada anak-anak. melalui permainan bahkan berkenalan dengan pantun” Ujar Febri Reviani, Koordinator Sekolah Darurat di Dusun Kopang, Kabupaten Lombok Tengah.

Lanjutnya, tujuannya tentu saja, untuk membuat anak-anak tidak trauma pasca gempa. Selain itu, program Sekolah Darurat ini juga dirasakan sangat bermanfaat bagi orangtua siswa. Seperti yang diutarakan Fatimah, warga Dusun Kopang, Kabupaten Lombok Tengah.

“Sejak gempa, anak-anak tidak sekolah. Bagaimana mau sekolah, ruang kelas mereka hancur,” kata Fatimah.   

“Ketika kami mengetahui Dompet Dhuafa mendirikan Sekolah Darurat, Alhamdulillah saat ini anak saya sudah kembali ceria, saya dan ibu-ibu disini berharap Dompet Dhuafa hadir setiap hari untuk menghibur dan mengajar anak-anak kami,” tambah Fatimah.

Hingga Saat ini tercatat 387 orang meninggal dunia akibat gempa bumi, dengan sebaran Kabupaten Lombok Utara 334 orang, Lombok Barat 30 orang, Lombok Timur 10, Kota Mataram 9, Lombok Tengah 2, dan Kota Denpasar 2 orang. Selain itu sebanyak 13.688 orang luka-luka, Pengungsi tercatat 387.067 jiwa tersebar di ribuan titik.

Bukan hanya itu, sebagian besar jalan di Lombok Utara mengalami kerusakan akibat gempa. Masih terdapat beberapa pengungsi yang belum mendapat bantuan, khususnya di Kecamatan Gangga, Kayangan dan Pemenang yang aksesnya yang sulit dijangkau.
Dompet Dhuafa dalam respon bencana gempa bumi Lombok, telah menurunkan tim rescue dari Disaster Management Center (DMC), Psychological First Aid, dapur umum, tenaga medis seperti dokter spesialis, perawat, serta relawan.

Selain kegiatan Dapur Keliling, terdapat aksi layan sehat (ALS) serta Motor Kilat, yang berkeliling dengan layanan kesehatan untuk mobilitas ke beberapa wilayah yang terpencil, dan bermedan sulit karena terputus.

Sebagaimana diketahui, Dompet Dhuafa adalah lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf), serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, perusahaan/lembaga).

Selama 25 tahun lebih, Dompet Dhuafa telah memberikan kontribusi layanan bagi perkembangan ummat dalam bidang sosial, kesehatan, ekonomi, dan kebencanaan serta CSR. (ril/nur)

thumbnail

Diposting oleh On 4:01:00 PM

PEWARTA-TAMBORA.COM, Jakarta - Tim Pencari Fakta (TPF) yang diawaki oleh Persatuan Wartawan Indonesia dalam menelisik kasus tewasnya Mohamad Yusuf, wartawan Sinar Pagi Baru yang tewas di tahanan Polres Katabaru, Kalimantan Selatan, dituding dibiayai oleh pengusaha hitam berinisial IS.

"Endingnya mudah ditebak, PWI akan mengeluarkan pernyataan bahwa almarhum meninggal secara wajar," ungkap Wilson Lalengke, Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga  Indonesia (PPWI) melalui WA-nya di grup Menggugat Dewan Pers, malam ini sekitar 22.30 WIB.

Menurut Wilson, aroma tidak sedap itu mencuat, berdasar informasi yang diperolehnya, dua hari setelah meninggalnya Mohammad Yusuf, ratusan wartawan di Kalsel "pesta pora" di rumah Gubernur Kalsel. Seperti diketahui, Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, adalah paman kandung IS.

"Walau tema acara buka puasa bersama, tapi IS bagi-bagi ampau," ungkap Alumni PPRA-48  Lemhannas RI tahun 2012 itu. dikutip ppwinews.com. Rabu (20/6/2018).

Dia menyebut, wartawan junior dan kroco menerima ampau sebesar Rp 500 ribu. Sedang Pemred maupun owner media diguga mencapai belasan juta.

"Maksudnya apa itu? Tak masuk dalam nalar saya," tulisnya di WA, seraya menyebut para wartawan itu sebagai robot tanpa hati, para begundal IS.

"Kawannya tewas di penjara, eh, malah mereka berbahagia dibagi THR oleh simafioso itu," sambungnya dengan nada jengkel.

Lagi-lagi Wilson menyebut mereka gerombolan pecundang gila. "Semua wartawan di sana penakut, penjilat pantat Isam," ujarnya.

Wilson juga meminta hati-hati terhadap manuvet PWI yang dinilainya pengkhianat pers.

"Waspada dan siapkan semangat perlawanan," pintanya kepada jajaran pers yang tidak tercatat pada PWI dan Dewan Pers.

Apalagi, tambahnya, mendiang Mohammad Yusuf tidak tercatat sebagai anggota PWI, yang selalu dicibir dan dianggap sebelah mata sebagai wartawan abal-abal.

"Lho kok, tiba-tiba mereka peduli menelisik kematian almarhum dengan membentuk TPF," ujar Wilson.

Begitupun Ketua Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI), Taufiq Rachman SH, Ssos, juga mensinyalir ketidakberesan PWI sebagai TPF.

"Kan, PWI selama ini tidak pernah membela wartawan yang bukan anggotanya. Lho kok sekarang, adanya dugaan pelanggaran berat tewasnya mendiang, kok PWI punya solidaritas tinggi. Mau jadi pahlawan kesiangan," semprot Taufiq.

Padahal, menurut dia, tewasnya Mohammad Yusuf, tak bisa dilepaskan dari induk semangnya PWI, Dewan Pers. Sebab, Dewan Pers yang  memberikan rekomendasi kasus almarhum tindak pidana. Bukan delik pers.

"Rekomendasi itu yang membuat penyidik menahan sehingga tewas di tahanan," ujar Taufiq yang menyakini tidak adanya pembelaan dari Dewan Pers.

"Jika ada, saya yakin nasib Mohammad Yusuf tidak mengenaskan," sambungnya.

Taufiq menyebut, andai saja rekomendasi meminta H. Isam untuk melakukan bantahan sesuai Kode Etik Jurnalistik, kasusnya tidak akan seperti itu.

"Cuma, karena Dewan Pers memandang sebelah mata, ya akhirnya Allah punya cara lain membuka aib diskriminasi Dewan Pers pada wartawan di Indonesia," papar Taufiq  (IPJI/PPWI)

thumbnail

Diposting oleh On 7:47:00 PM

PEWARTA.TAMBORA.COM, JAKARTA - Seorang wartawan media Kemajuan Rakyat dikabarkan telah meninggal dunia setelah dilarikan dari Rumah Tahanan Kotabaru, menuju RSUD setempat, lantaran mengalami sesak nafas dan muntah-muntah. Minggu (10/6/2018)

M.Yusuf ditahan pada pertengahan April yang sedang menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Kota Baru. M.Yusuf (42) ditangkap lantaran dilaporkan oleh Managemen PT.Multi Sarana Argo Mandiri (MSAM) atas kasus pencemaran nama baik.

Hal ini pun menuai banyak perhatian dan juga keprihatinan publik di Kalimatan Selatan dan juga tingkat nasional khususnya bagi kalangan aktivis jurnalis hingga tokoh nasional seperti pakar hukum yang juga Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra.

Yusril Ihza Mahendra berpendapat, kematian Yusuf karena sesak nafas dan muntah-muntah, mestinya tidak cukup dijelaskan dengan visum sementara, sebagaimana dikatakan Kapolres Kota Baru.

“Tetapi harus dilakukan secara mendalam dengan melakukan bedah mayat (Autopsi) untuk memastikan penyebab kematiannya. Keluarga almarhum seyogyanya mengizinkan otopsi ini demi terungkapnya sebuah kebenaran,” ujar Yusril melalui siaran pers. Selasa (12/6/2018).

Yusril juga mengatakan, bahwa jenazah yusuf masih bisa diautopsi secara optimal, karena baru dimakamkan satu hari, yakni pada Senin (11/6).

Menurut dokter dapat dijelaskan secara komprehensif perihal penyebab kematian Yusuf. Dia menambahkan, dokter mesti mengidentifikasi penyebab mengapa Yusuf meninggal hanya sekitar 30 menit setibanya di rumah sakit.

Autopsi terhadap jenazah Yusuf, menurut Yusril akan membuka tabir misteri kematiannya.

Dia menambahkan, seandainya kematian yusuf memang wajar berdasarkan autopsy, maka kasus tersebut tidak perlu diperpanjang.


Namun sebaliknya, Bareskrim Mabes Polri mesti turun tangan untuk melakukan penyelkidikan secara objektif untuk mengungkap siapa yang bertanggung jawab atas kematian tersebut. “Ini harus dilakukan demi tegaknya hukum dan keadilan,” pungkasnya. (Nur)

Editor : Heri Tambora

thumbnail

Diposting oleh On 11:20:00 AM

PEWARTA-TAMBORA.COM, JAKARTA - Sesaat setelah heboh pemberitaan tentang tewasnya wartawan online M. Yusuf di Lapas Kotabaru, Kalimantan Selatan, berbagai respon dan tanggapan bermunculan. Tidak kurang dari Wakapolri Syafruddin dan pihak Komnas HAM memberikan pernyataan yang cukup keras atas kejadian memilukan tersebut.

"Wartawan tidak boleh langsung dipidana!" Demikian pernyataan singkat Komjenpol Syafruddin kepada para awak media yang meminta komentarnya, Senin, 11 Juni 2018, soal kriminalisasi wartawan M. Yusuf yang mengakibatkan yang bersangkutan meninggal dunia. Syafruddin kemudian berjanji akan mengecek ke anak buahnya di Polres Kotabaru.

Hairansyah, Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), bahkan dengan tegas meminta Lapas dan Kejari di Kotabaru memberikan penjelasan resmi dan bertanggungjawab atas kematian wartawan M. Yusuf, mulai dari proses awal kasus kriminalisasi terhadap yang bersangkutan yang dianggap Komnas HAM penuh kejanggalan. Anca, nama panggilan Hairansyah, menyesalkan tewasnya M. Yusuf, yang dipidana lantaran menjalankan profesinya sebagai wartawan.

Almarhum M.Yusuf wartawan Online Kotabaru
“Pihak Kejari Kotabaru dan Lapas Kotabaru harus menjelaskan secara resmi dengan benar serta bertanggung jawab,” kata Hairansyah di Jakarta, Senin (11/6/2018).

Kasus tewasnya M. Yusuf dalam Lapas Kotabaru ini, kata Anca, berawal dari hal yang janggal. “Yang bersangkutan menuliskan berita menyangkut perusahaan sawit PT. Multi Sarana Agro Mandiri (MSAM). Oleh perusahaan dilaporkan ke polisi. Dengan sigap polisi menangkap Yusuf dan menjeratnya dengan UU ITE,” papar Hairansyah heran.

Sebaliknya, sangat disayangkan, lembaga kesayangan para wartawan, yang menyandang nama keren "pers", Dewan Pers justru memberikan respon yang bertolak belakang dengan institusi Polri dan Komnas HAM. Dalam siaran persnya di hari yang sama, Senin kemarin, lembaga yang diharapkan menjadi pelindung, pengayom, bahkan pembela pekerja pers tersebut, terkesan mengelak berbagai tudingan kelalaiannya yang telah memberikan rekomendasi agar M. Yusuf diproses hukum saja. Isi pernyataan Dewan Pers sangat jelas terang benderang merupakan pembenaran diri sendiri alias cuci tangan.

Wilson Lalengke, Ketua Umum PPWI Nasional yang turut menerima kiriman pernyataan pers dari Dewan Pers ini merespon keras dengan menyatakan bahwa tindakan cuci tangan lembaga itu mencerminkan sifat pecundang. "Itu sifat para pecundang, tidak bertanggungjawab. Percuma lembaga itu dibiayai negara, uangnya dari rakyat, tapi tanggung jawab terhadap rakyat pers nol besar," ujar alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu.


Lebih lanjut, Wilson mengatakan bahwa jika di Jepang, pimpinan lembaga yang gagal menjalankan tugas dan fungsinya, apalagi hingga ada korban rakyat meninggal, mereka mengundurkan diri segera. "Kalau di Jepang, bukan hanya mundur itu pengurus Dewan Pers-nya. Mereka bunuh diri karena tidak sanggup menanggung malu. Di kita, masih jauhlah. Mental pecundang karatan, sulit diharapkan bisa tanggung jawab," pungkas alumni Program Persahabatan Indonesia Jepang Abad-21 yang disponsori oleh JICA tahun 2000 itu. (TIM/Red)