Popular Posts

Kategori

Follow by Email

thumbnail

Posted by On 9:08:00 PM


PEWARTA-TAMBORA.COM, JAKARTA - Polres Metro Jakarta Barat, terus tidak henti untuk memerangi bahaya narkoba, baru-baru ini Satnarkoba Polres Metro Jakarta barat melakukan penggeledahan di kampung boncos lapangan bulu Tangkis, Jalan Kiapang Rt.06/03 Kel.Kota Bambu Selatan, palmerah, Jakarta Barat, Rabu sore (7/2/18).

Penggeledahan yang dipimpin oleh Kasat Narkoba AKBP Suhermanto, berhasil mengamankan pelaku 9 orang berikut barang bukti antara lain 64 gram sabu, uang sebesar Rp 142.000, 7 unit HP, 7 unit Korek, bong dan beberapa senjata tajam.

Kapolres Jakarta Barat, Komisaris Besar Hengki Haryadi menyatakan, bahwa kampung Bocos di Kelurahan Kota Bambu Selatan, Palmerah Jakarta Barat sebagai kampung Narkoba.

“Di wilayah Jakarta Barat yang kami analisis ada beberapa kampung narkoba. Salah satunya Kampung Boncos,” ungkap Hengki.

Keberhasilan ini, kata Kapolres, tak lepas dari perubahan strateginya dalam memberantas narkoba. “Jaringan kami tangkap diluar. Kami tusuk di dalam,” tuturnya.

Ke depan, dirinya akan mengundang seluruh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOMPINDA) untuk mencari solusi sebagai upaya preventif. “Kami membutuhkan peran serta masyarakat di sini (Kampung Boncos),” pungkasnya. (rls/yus-in/red)

thumbnail

Posted by On 8:32:00 PM


PEWARTA-TAMBORA.COM, JAKARTA - Sebuah truk kontainer yang ditumpangi Ahmad Arifin (27), telah menyenggol kendaraan bermotor Mio G125 yang dikendarai Tan Jie Hwa (35) tepatnya di seputaran jalan Latumenten (Depan Pospol Jembatan Besi), Tambora, Jakarta Barat, Kamis (8/2/2018) sekira pukul 11.00 WIB.

Menurut saksi mata yang tidak mau disebutkan namanya kepada media ini, mengatakan, supir tidak melihat jika ada sebuah motor Mio disampingnya, alhasil kendaraan Motor Mio dengan Nopol B 4135 BKS tersebut tersungkur ke badan jalan.

Atas insiden tersebut seorang supir truk kontainer dengan nopol B 9205 UYT yang dikendarai Ahmad Arifin terpaksa harus berurusan dengan pihak yang berwajib, guna dimintai keterangan.

Hingga berita ini disusun, sekira pukul 13.00 WIB, warga Jelambar, Jakarta Barat, Tan Jie Hwa (35) mengalami luka patah pada kaki kiri dan dibawa menuju RS.Sumber Waras, guna mendapatkan pertolongan. (yus-in/red)

thumbnail

Posted by On 9:00:00 PM

PEWARTA-TAMBORA.COM, JAKARTA - Akhirnya pelaku pencurian motor milik temannya sendiri dengan dalih minta antar dan menghilangkan kunci motornya, kini telah dibekuk Unit Reskrim Pimpinan AKP Erick Ekananta Sitepu,SIK di kediamannya di jalan Sawah Lio II, jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat.

Mungkin ini yang disebut kebaikan dibalas dengan air tuba, hal ini dialami korban S (24). Pasalnya setelah berbuat baik kepada pelaku JA, namun kebaikannya dibales dengan cara mencuri motor milik S.

Bermula saat JA alias Jay bin ME mendatangi toko milik korban yang bermaksud meminta tolong untuk diantarkan ke Hotel Orange, dengan dalih menjemput adiknya yang sudah lama hilang.

Hal itu diungkap oleh Kapolsek Tambora, Kompol H.Slamet Riyadi saat menerangkan kronologis kejadian hilangnya motor pada Jumat (26/2/2018) lalu.

"Karena ada hubungan pertemanan, korban pun bersedia menolongnya dengan diantar keponakan korban dengan menggunakan motor miliknya," terang Kapolsek Tambora Kompol H.Slamet Riyadi. Senin (5/2/2018).

Dikatakan Kapolsek, pada saat ditengah-tengah perjalanan, dengan adanya kesempatan pelaku mengambil kunci motor tanpa sepengetahuan korban dengan alasan kunci motornya jatuh.

Lanjut Kapolsek, setelah mengantarkan pelaku, korbanpun memarkirkan sepeda motor miliknya di rumah, namun saat ingin kembali menggunakan motornya ternyata sudah hilang.

Merasa curiga, beber Kapolsek, akhirnya korban mencoba menghubungi pelaku, namun Hp pelaku tidak aktif. Atas kejadian ini korban pun melaporkan kepada Polsek Tambora. Berdasarkan bukti-bukti dan keterangan sejumlah saksi, maka pelaku kami bekuk di kediamannya.

Sementara, Kanit Reskrim AKP Erick mengatakan, pada pengakuan JA bahwa sepeda motornya telah dijual ke penadah di sekitaran Tanah Sereal dengan harga 800 ribu rupiah.

"Pelaku ini mengakui sudah tiga kali mencuri dengan modus yang sama. Saat ini pelaku kami amankan bersama barang bukti sepeda motor korban, beserta surat-surat motor, pelaku dikenai pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan," beber AKP Erick. (hms-in/red).

thumbnail

Posted by On 10:41:00 PM

PEWARTA-TAMBORA.COM, JAKARTA - Sebuah mobil jenis Toyota Kijang Rover Nopol B 2673 JB yang ditumpangi Warcim (50) warga Kampung Jawa Kebun Sayur, Kelurahan Keagungan, Jakarta Barat, terperosok ke kali Angke di Jalan P.Tb.Angke, Kampung Gusti, Jakarta Barat, Sabtu (3/2/2018) sekira pukul 11.30.

Pantauan tim Media Pewarta, atas insiden tersebut mengakibatkan jalan dari pesing mengarah ke kota macet total, dalam insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

Hingga berita ini disusun, kejadian tersebut ditangani oleh Satlantas Tanjung Duren, yang kemudian mobil dibawa menuju Daan Mogot, Jakarta Barat.

thumbnail

Posted by On 12:20:00 PM

PEWARTA-TAMBORA.COM, JAKARTA - Kepolisian Subnit Narkoba Polsek Tambora, Pimpinan Panit Iptu Subartoyo, berhasil mengamankan pengemudi ojek online yang kedapatan menyimpan barang haram berupa 1 paket plastik klip diduga shabu seberat 3,18 gram.

"Hal ini dilakukan menindaklanjuti perintah Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Polisi Hengki Haryadi dalam upaya prefentif serta represif terhadap penyalahgunaan narkoba di wilayah hukum Polres Jakarta Barat," ujar Panit Iptu Subartoyo.

Hal senda disampaikan oleh Kapolsek Tambora, Kompol H.Slamet Riyadi, bahwa kejadian tersebut terjadi di Jalan Keutamaan Dalam No.33A RT.13/01 Kel.Krukut, Taman Sari, Jakarta Barat, Rabu (31/1/2018) sekira pukul 14.30 WIB.

Diketahui pria tersebut bernama Handojo Darmawan (Jimmy) Lahir Jakarta 3 Juni 1962, Budha, SD, Ojek, Jl.Dwiwarna II Gg.1 No.25 RT.08/10 Kel.Kalianyar, Kec.Sawah Besar, Jakarta Pusat.

"Dari pria tersebut diamankan berikut barang bukti 1 paket plastik klip diduga shabu seberat 3,18 gram, yang dimasukkan kedalam bungkus rokok, sesaat setelah melakukan transaksi di Krukut Taman Sari, Jakbar," ujar Kapolsek.

Atas kejadian itu, pengemudi ojek online kemudian diamankan ke Polsek Tambora, pelaku dapat dikenai Pasal 112 UU RI No.35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dan dapat dituntut minimal 4 Tahun Penjara (lth-in/red)

thumbnail

Posted by On 1:23:00 PM

Lurah Pekojan Tri Prasetyo Utomo tengah melakukan pendataan Becak sesuai kebijakan pemprov DKI
Kebijakan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan memperbolehkan becak beroperasi di Jakarta, telah menarik perhatian sejumlah pegiat media sosial, ragam pro dan kontra pun menjadi perbicangan.

Hal ini pun menjadi perbincangan bagi kalangan elit politik, terutama berkaitan dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum hanya mengatur becak di Jakarta. Beberapa pekan lalu, masyarakat di hebohkan dengan kehadiran puluhan Becak di kolong Flayover Bandengan Utara III, Kelurahan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat.

Namun, di balik keinginan Anies itu tersimpang sejarah panjang perjalanan becak di Jakarta. Berikut sejarah perjalanan becak di Jakarta hingga akhirnya mulai dilarang beroperasi

Berikut Perjalanan Becak di Jakarta Tahun 1936:
Becak mulai beroperasi di Jakarta tujuh tahun kemudian jumlah becak sudah mencapai 3.900 unit.

1951:
Jumlah becak di Jakarta tercatat 25.000 yang dikemudikan oleh 75.000 orang dalam tiga shift.

1967:
Saat DPRD-GR Jakarta mengesahkan perda tentang pola dasar dan rencana induk Jakarta 1965-1985, yang antara lain tidak mengakui becak sebagai kendaraan angkutan umum.

1970:
Gubernur DKI Ali Sadikin, mengeluarkan instruksi melarang memproduksi dan memasukkan becak ke Jakarta, termasuk rayonisasi becak. Tahun tersebut jumlah becak diperkirakan 150.000 becak, yang dikemudikan 300.000 orang dalam dua shift. Tahun berikutnya Pemda menetapkan sejumlah jalan protokol dan jalan lintas ekonomi tidak boleh dilewati becak.

1972:
DPRD DKI mengesahkan Perda no. 4/1972, menetapkan becak, sama dengan opelet, bukan jenis kendaraan yang layak untuk Jakarta. Saat itu becak berkurang dari 160.000 menjadi 38.000.

1988:
Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto dalam instruksi No 201/1988, memerintahkan para pejabat di lima wilayah kota untuk melakukan penyuluhan terhadap pera pengusaha dan pengemudi becak dalam rangka penertiban becak di jalan sampai penghapusan seluruh becak dari Jakarta. Saat itu becak tercatat 22.856 becak.

1990:
Pemda DKI memutuskan becak harus hilang dari Jakarta, Kesabaran selama 20 tahun untuk membiarkan becak tetap ada di jalanan dianggap sudah cukup sebagai tenggang rasa dari Pemda DKI.

Awal tahun 1990 becak yang masih tersisa di Jakarta, tercatat berjumlah sekitar 6.289 becak. Becak dilarang beroperasi di Ibu Kota sejak April 1990, ditetapkan melalui Perda No 11/1988.

24 Juni 1998:
Gubernur DKI Sutiyoso menyatakan, Selama masa krisis ekonomi, angkutan umum yang disebut becak dibolehkan beroperasi di Ibu Kota. Bila situasi dan kondisi ekonomi sudah pulih kembali, maka larangan becak beroperasi di kawasan hukum Ibu Kota diberlakukan lagi.

25 Juni 1998:
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menginstruksikan kepada Wali Kota se-DKI Jakarta agar membina kehadiran becak selama resesi ekonomi, dengan cara memberi tempat operasi, supaya tidak mengganggu ketertiban umum. Lokasi beroperasinya becak, kata Sutiyoso, hanyalah di jalan-jalan lingkungan yang tidak dijangkau oleh kendaraan bermotor, dan roda empat.

29 Juni 1998:
Izin lisan yang diberikan Gubernur Sutiyoso yang membolehkan beroperasinya angkutan umum becak di Jakarta, ditarik kembali. Dengan demikian, becak dilarang beroperasi di wilayah hukum DKI Jakarta.

Meski usia izin lisan itu hanya sempat berlaku tujuh hari, namun jumlah becak yang masuk ke Jakarta sudah mencapai sekitar 1.500 buah.

10 Maret 1999:
Sedikitnya 800 pengayuh becak dengan mengendarai 400 becak mendatangi Balaikota DKI Jakarta. Mereka yang berada di sana sejak pagi ingin bertemu Gubernur Sutiyoso untuk menyampaikan tuntutan agar becak diperbolehkan beroperasi di wilayah permukiman dan jalan nonprotokol Ibu Kota. Di samping itu, mereka juga meminta Pasal 18 Peraturan Daerah (Perda) No 18/1998 tentang pelarangan becak di Jakarta diubah.

15 April 1999:
Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta menolak untuk mengubah Peraturan Daerah (Perda) DKI No 11/1988 tentang pelarangan becak beroperasi di Ibu Kota. Namun begitu, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso tetap menawarkan alih profesi para pengemudi becak tersebut melalui program Jaring Pengaman Sosial (JPS).

9 November 1999:
Sekitar 5.000 pengayuh becak, yang dipimpin Ketua Konsorsium Kemiskinan Kota, Wardah Hafidz berunjuk rasa ke Gedung DPRD DKI dan menuntut Perda No 11/1998 dicabut. Saat menerima perwakilan para pengayuh becak, Wakil Ketua DPRD DKI Tarmidi Suharjo menyatakan setuju untuk mencabut perda tersebut.

10 November 1999:
Becak tetap dilarang beroperasi di wilayah DKI Jakarta, sebab Peraturan Daerah (Perda) No 11/1998 masih berlaku. Pasal 18 Perda No 11/1998 melarang orang atau badan membuat, menjual, dan mengoperasikan becak di wilayah Ibu Kota tegas Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.

31 Januari 2000:
Ratusan pengayuh becak yang dimotori Konsorsium Kemiskinan Kota, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dipimpin Wardah Hafidz, berunjuk rasa ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta.

Mereka masih mengajukan tuntutan lama, yaitu pencabutan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 1988 tentang Ketertiban Umum di Ibu Kota yang melarang becak beroperasi.

15 Februari 2000:
Wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan dinyatakan bersih dari becak sejak diadakan operasi mulai Desember tahun 1999. Dari 6.649 becak yang tercatat beroperasi di Jakarta, sekarang tinggal 3.519 yang tersebar di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat.

"Pembersihan becak masih terus dijalankan terutama di beberapa kantung yang jadi konsentrasi angkutan tersebut," kata Kepala Bidang Pengumpulan dan Pengolahan Data Pusat Pengendalian Ketegangan Sosial DKI, Raya Siahaan.

17 Februari 2000:
Sebanyak 139 koordinator pangkalan becak yang mewakili sekitar 5.000 tukang becak di wilayah DKI Jakarta (penggugat) melalui kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, dan Lembaga Studi dan Advokasi

Masyarakat (Elsam) menggugat Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso (tergugat). Sutiyoso dinilai melanggar Peraturan Daerah (Perda) No 11/1988 tentang Ketertiban Umum dalam Wilayah DKI Jakarta. Gugatan itu didaftarkan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

28 Februari 2000:
Koordinator Urban Poor Consortium (UPC) Wardah Hafidz bersama staf Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Daniel Panjaitan serta sebelas tukang becak, ditangkap dan dibawa ke Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya.

Penangkapan tersebut menyusul aksi unjuk rasa yang mereka lakukan sejak pagi di Istana Merdeka, Jakarta. Namun demikian, polisi tidak menahan mereka. Setelah dimintai keterangan oleh aparat Polda Metro Jaya, Wardah dan kawan-kawan dipulangkan.

31 Juli 2000:
Ratusan tukang becak memekik kegirangan usai putusan sidang perkara gugatan tukang becak (penggugat) terhadap Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso (tergugat) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

Ketua Majelis Hakim Manis Soejono dalam putusannya menyatakan, penggugat dapat melaksanakan pekerjaan sebagai penarik becak di jalan-jalan permukiman dan pasar.

1 Agustus 2000:
Meskipun kalah melawan para pengayuh becak di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Gubernur DKI Sutiyoso terus merazia becak. Sutiyoso juga menolak memberikan ruang gerak atau tempat beroperasi bagi becak, sekalipun di kawasan terbatas.

6 November 2000:
Sekitar 400 warga yang menuntut penghapusan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 1988 tentang Ketertiban, melakukan unjuk rasa di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. Warga yang terdiri dari para pemulung, pedagang kaki lima, tukang becak, dan anggota keluarganya itu, berunjuk rasa dibawa oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) Urban Poor Consortium (UPC) pimpinan Wardah Hafidz.

19 Juli 2001
Ribuan tukang becak, pedagang kaki lima, pengamen, dan pengemis, Kamis (19/7) siang melakukan unjuk rasa di Balaikota DKI Jakarta menuntut pencabutan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 1988 tentang Ketertiban Umum.

13 Agustus 2001
Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta mengadakan operasi "penggarukan" becak secara serentak di lima wilayah DKI Jakarta.

2012-2017
Pemprov DKI Jakarta yang secara berturut-turut dipimpin Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dan Djarot Saiful Hidayat tetap mengikuti aturan yang berlaku dengan melarang becak beroperasi di Jakarta.

Jokowi yang beberapa tahun setelahnya terpilih menjadi presiden dikirimi surat oleh seorang tukang becak soal kekecawaan larangan becak beroperasi di Jakarta.

2018
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ingin kembali menghidupkan becak di Jakarta. Salah satu caranya dengan membuat rute khusus yang bisa dilalui moda transportasi tradisional itu.

thumbnail

Posted by On 3:04:00 AM

Pewarta-Tambora.ComJakarta – Lurah Pekojan Tri Prasetyo Utomo bersama Camat Tambora Djaharuddin tengah meninjau lokasi ambruknya Gedung Aula SMPN 32 Pekojan yang berlokasi di Jalan Pejagalan Raya No.51 RT.5/4, Kel.Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, Kamis, (21/12/2017) siang.

Camat Tambora, Djaharuddin mengatakan, Ambruknya Gedung Aula Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 32 Pekojan yang telah menimpa 3 korban tersebut merupakan salah satu bangunan cagar budaya.

“Bangunan SMPN 32 yang ambruk merupakan bangunan cagar budaya, di bangun sejak zaman penjajahan Belanda dan tanggung jawab Dinas Pariwisata dan Budaya DKI Jakarta,” Ujarnya.

Djaharuddin pun menyampaikan, ketiga korban saat ini berhasil di evakuasi dari reruntuhan bangunan oleh tim resque Sudin Penanggulangan Kebakaran Jakarta Barat. Mereka langsung dibawa ke rumah sakit sumber waras dan tarakan.


Adapun ketiga Korban antara lain, Endang Suryana sebagai pelatih Pramuka, Syifa sebagai guru ekskul dan Syahruddin sebagai pengawas sekolah. Satu lagi yang masih syok bernama Heru dan dia adalah pegawai Tata Usaha (TU). Sebagian ada yang dibawa ke Puskesmas Kecamatan Tambora (Krendang).
Ditempat terpisah, sumber pewarta menyampaikan, adapun satu korban biasa disapa Yayan salah seorang Waka BPPKB Ranting Pekojan Kecamatan Tambora kini keadaannya sudah kembali pulih dan pulan kerumah.(Bdn-in/red)

thumbnail

Posted by On 1:03:00 PM


Pewarta-Tambora.Com, Jakarta - Sebuah bangunan yang diduga sebagai tempat gudang kosmetik terbakar di jalan Bandengan I No.56, Kel.Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, Senin (4/12/2017).

Dari informasi yang didapat, bangunan gudang kosmetik tersebit terbakar sekitar pukul 10.43 WIB, namun belum diketahui penyebab kebakaran gudang kosmetik tersebut.

Hingga berita ini disusun, tim pemadam kebakaran Jakarta Barat berhasil memadamkan kobaran api, dengan mengerahkan 20 unit mobil kebakaran, dan kini tengah melakukan pendinginan atas kebakaran tersebut.

"saat ini masih proses pendinginan, belum diketahui apakah ada korban jiwa aau tidak, pengerahan mobil sejauh ini 15 unit," ucapa Kasudin penaggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta bArat, Abdul Cholik. (rd-in/red)




thumbnail

Posted by On 5:19:00 PM

Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS)
PEWARTA-TAMBORA.COM, Surabaya  - Masjid merupakan tempat ibadah bagi Umat Islam untuk melakukan Sholat dan diperuntukkan juga sebagai pusat kehidupan komunitas muslim melakukan kegiatan Perayaan Hari Besar, Diskusi, Kajian Agama, Ceramah, Belajar Al Qur'an, serta turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan.

Namun sangat disayangkan, Pembongkaran terhadap Masjid Assakinah yang berada tidak jauh dari Kantor Wali Kota Surabaya dan berada di area DPRD Kota Surabaya telah terjadi.

Anehnya lagi, Tidak ada Aparat Penegak Hukum maupun Pemerintah Republik Indonesia yang turun untuk menindak tegas Para Pelaku Pembongkaran.

Masjid Assakinah yang terletak di Komplek Balai Pemuda Surabaya Jalan Gubernur Suryo No.15 Surabaya, Hancur dan tinggal reruntuhan bangunan tersisa yang berdiri tegak.

Arek - Arek Suroboyo yang tergabung didalam Komunitas Bambu Runcing Surabaya sangat geram melihat Pembongkaran Masjid Assakinah, Pasalnya masjid tersebut tempat ibadah dan ditambah lagi belum jelas pemenang lelang serta siapa penanggung jawab dalam pembongkaran masjid itu.

Udin Sakera selaku Organisasi Comite (OC) KBRS mengatakan, Pembangunan tempat ibadah umat Islam, Khususnya Masjid harus berdiri sendiri, Karena rumah itu adalah untuk menghadap dan memuliakan Allah SWT.

“Kita akan terus sikapi hingga Masjid ini di bangun kembali, Jika tidak, Kita akan terus melawan,” Ucap Udin Sakeradengan lantang.

Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS) bersama kuasa hukumnya dengan tegas melaporkan Pemerintah Kota Surabaya dan Ketua DPRD Kota Surabaya sebagai pejabat Kota Surabaya ke Polda Jawa Timur dan Mabes Polri

KBRS menuding Walikota Surabaya dan Ketua DPRD Kota Surabaya telah mendukung atas pembongkaran Masjid Assakinah yang merupakan tempat ibadah Ummat Islam, Tak luput juga Kepala Dinas PU Cipta Karya pun ikut terseret di laporkan.

Sementara itu, Koordinator KBRS, Wawan Kemplo mengatakan, Pembongkaran Masjid Assakinah di lingkungan Komplek Balai Pemuda Surabaya yang juga merupakan salah satu Cagar Budaya Kota Surabaya dianggap tidak beretika dengan alasan akan dibangun Gedung Perkantoran Mewah.

“Pertemuan dengan Ketua DPRD Kota Surabaya tidak ada titik temu dalam menyelesaikan Pembongkaran Masjid Assakinah, Padahal permintaan kita sebenarnya sederhana, Kembalikan saja Masjid seperti semula,” Ujarnya kepada awak media Gerbangnews.com, Minggu (26/11/2017).

Pembongkaran Masjid, Lanjut Wawan Kemplo, Seharusnya masjid baru dibangun dulu, Lalu masjid lama dibongkar. Bukannya masjid langsung di Bongkar, Kemudian dibangunkan lagi yang lebih besar.

"Kami sudah berusaha mencoba temui Walikota Surabaya, Namun pertemuan dengan Tri Rismaharini tidak kunjung terlaksana dan terkesan Walikota Terbaik ini menyepelekan, " Cetusnya.

Wawan Kemplo menambahkan, Masih belum jelas siapa yang bangun, Siapa yang bertanggung jawab, dan Siapa yang membongkar Masjid ini.


"Rencananya,Pembangunan Masjid Baru ditempatkan di lantai bawah Gedung DPRD yang akan dibangun 8 lantai dan Masjid tersebut terletak dibawah kantor mereka (DPRD), " Terangnya. (syam-in/red)

thumbnail

Posted by On 2:19:00 PM

PEWARTA-TAMBORA.COM - Tuban Jawa Timur l Pungutan Liar (Pungli) dan Premanisme yang mengatasnamakan Paguyuban marak terjadi di Terminal Bus Makam Sunan Bonang, di Jalan Panglima Sudirman, Sukolilo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Hal ini dialami langsung oleh Penasehat dari Media Online Gerbangnews.com M.Machmud saat melakukan Ziarah ke Makam Sunan Bonang pada Minggu, (12/11/2017) saat bersama Rombongan Majelis Dzikir dengan menggunakan 4 buah Bus. 

Dikatakan M.Machmud, saat itu kami dari Majelis Dzikir tengah melakukan ziarah rutin ke Makam Sunan Bonang dengan menggunakan 4 Bus. Saat sampai di depan Makam Sunan Bonang, Saya langsung koordinasi di Pos Polisi untuk bisa menurunkan Penumpang karena kebanyakan para peziarah sudah tua dan Alhamdulillah Petugas Kepolisian mengizinkan.

"Kami semua masuk ke dalam Makam, Sedangkan Bus parkir di rumah makan Wahyu Utama 2 yang sudah kita pesan. Namun, Tidak lama kemudian Para Preman mendatangi Bus yang terparkir agar parkir di Terminal, " Tutur M.Machmud.

Karena takut dengan ancaman preman, lanjut M.Machmud, Ke 4 Bus mengikuti arahan dari Para Preman untuk masuk dan parkir didalam terminal.

Lebih jauh, M.Machmud mengatakan, sebelum keluar dari tempat ziarah, saya mendapatkan pesan singkat (SMS) dari nomor yang tidak dikenal yang berbunyi, 'Kalau untuk Peziarah harus parkir di Sentral Parkir dan harus naik becak pulang-pergi, Daripada ada masalah lebih baik naik becak aja ke Sentral Parkir'.

"Langsung kami semua naik becak menuju ke terminal, sesampainya di Terminal kami dihadang oleh puluhan orang yang mengatasnamakan Paguyuban, " Ungkap Penasehat Gerbangnews.com.

Masih menurut M.Machmud, Bus yang kami tumpangi di sandera oleh para preman didalam terminal. Jika ingin 4 Bus itu bisa keluar, Saya disuruh bayar sebesar Rp. 1.200.000,- (satu juta dua ratus ribu rupiah). "Melihat para peziarah sudah tua dan tidak berdaya, lantas saya bayar dan minta kwitansi, " Ujarnya.

Dengan adanya kejadian Pungutan Liar yang sangat meresahkan masyarakat hendak ziarah ke Makam Sunan Bonang, Dalam waktu dekat ini, Kami akan segera Lapor ke Mapolres Tuban.


"Kami berharap kepada Kepolisian Jawa Timur agar memberantas segala bentuk pungutan liar tanpa pandang bulu dan tebang pilih, supaya tercipta situasi Kamtibmas yang Kondusif," Pungkasnya mengakhiri.

Sumber : GerbangNews

thumbnail

Posted by On 9:24:00 PM

Kapolrestra Tangerang AKBP Sabilul Alif S.Ik Tengah Olah TKP terkait pasangan yang diduga berbuat mesum di Cikupa di Rumah Kontrakan Milik Helmi di Kp. Kadu Rt. 07/03 Kel. Sukamulya Kec. Cikupa Kab Tangerang, Selasa (14/11/2017)
PEWARTA-TAMBORA.COM, Tangerang - Kapolresta Tangerang AKBP Sabilul Alif S.Ik tengah menindak lanjuti perkembangan pasca penggerebekan pasangan yang diduga berbuat mesum di Cikupa pada Jum'at (10/11/2017) lalu, sekira pukul 23.30 WIB. Dari hasil Visum terhadap keduanya terdapat luka-luka lebam bekas penganiayaan.

“mereka sangat trauma dengan kejadian ini, mereka menyampaikan  terimakasih kepada pihak Kepolisian yang menangani permasalahan ini.” Ungkap AKBP Sabilul Alif S.Ik di Kp. Kadu Rt. 07/03 Kel. Sukamulya Kec. Cikupa Kab Tangerang. Selasa (14/11/2017) sekira pukul 13.10 di TKP Kontrakan milik Helmi.

Menurut pengakuan yang bersangkutan, keduanya tidak berbuat mesum, karena dalam waktu dekat ini  mereka mau menikah. “nntuk motif lain masih belum ditemukan,” Ujarnya.

Dikatakan AKBP Sabilul, hal ini menjadi pembelajaran hukum, karena wanita yang berasal dari daerah Sumatera ini hidup sebatang kara di daerah cikupa, tidak ada sanak saudara di tangerang, bahkan yang bersangkutan merupakan Yatim Piatu.

“Tersangka penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan saat ini yang diamanakan berjumlah 6 orang,  mereka dikenai pasal 170, 335 ancaman mak 5 tahun,” Jelas AKBP Sabilul kepada awak Media.

Masih kata AKBP Sabilul, Kejadian ini merupakan Pembelajaran hukum untuk kita bersama, sedangkan dari ke 6 tersangka telah membenarkan apa yang terjadi tersebut.

Lebih jauh AKBP Sabilul mengungkapkan, penyebar video yang di unggah di Medsos ada 4 akun yang langsung di tutup, ada beberapa akun lain yang sedang dalam pengembangan kepolisian. “Dari ke enam tersangka akan dilakukan pengembangan, siapa yang pertama menyebarkan video.” Ucapnya.

Adapun ke enam pelaku yang diamankan oleh pihak Polretra Tangerang diataranya, Gunawan (36), Toto Komarudin (44), Endang Anom (32), Iis Suparlan (28), Nuryadi (33), dan Anwar Jabrig (30).

Sedangkan korban saat ini sudah di rumah aman dibawah pengawasan Polresta Tangerang, “fokus ini penganiayaan, masalah yang bersangkutan melakukan mesum ataupun tidak sedang kita dalami.” Pungkasnya.

Rep : Beno
Editor : Heri Tambora

thumbnail

Posted by On 9:17:00 PM

Pewarta-Tambora.com, Jakarta - Kebakaran yang melanda pada setiap wilayah manapun umumnya menimbulkan sisa rasa pilu terlebih bagi korban yang rumahnya ikut terbakar, hal ini pula dialami oleh warga RW.02 Kelurahan Jembatan Lima beberapa waktu lalu.

Kebakaran yang terjadi di wilayah RT.09 RW.02 Jembatan Lima tepatnya di Jalan Laksa IV Kelurahan Jembatan Lima tersebut diduga disebabkan oleh korsleting listrik pada sebuah rumah yang dimiliki oleh seorang warga yang tak lain seorang mantan Dewan Kelurahan Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat.

Kobaran api yang disebabkan akibat korsleting listrik itupun dengan cepatnya melahap rumah bangunan miliknya, tepatnya pada lantai 2  yang hanya terbuat dari balok dan kayu pun musnah terbakar hingga luluh lantah yang hanya menyisakan lantai 1 yang terbuat dari beton.

Dengan kesigapan warga bersama pengurus Rw.02, dibantu petugas pemadam kebakaran, akhirnya peristiwa kebakaran yang terjadi pada Selasa (10/10/2017) sekira pukul 20.00 WIB dapat dipadamkan kurang lebih hanya dalam waktu satu jam.

"Kebakaran yang terjadi diwilayah kami, hanya satu rumah dan alhamdulillah tidak menimbulkan korban jiwa, walaupun ada korban luka bakar dan korban lain yang kebetulan sudah ditangani pihak rumah sakit setempat," ungkap Ichwan Lazuardi LMK Unit RW.02, Minggu (15/10/2017).

Dikatakan Ichwan Lazuardi, walaupun keberadaan LMK yang masa bhaktinya sesaat lagi akan habis tentunya kami bersama Pengurus RW.02 mencoba untuk melakukan penggalangan dana bantuan terhadap korban kebakaran diwilayah kami.

"Dana yang terkumpul dalam penggalangan tersebut tentunya langsung kami serahkan kepada kepala keluarga korban kebakaran," ungkapnya yang juga Wakil Pimpinan Redaksi Media Pewarta Tambora.

Kami sepakat, lanjut Ichwan Lazuardi, bahwa bantuan dana tersebut bisa ikut membantu korban agar bisa merenovasi rumah yang menurut pantauan kami memang rusak parah.

"Kami berharap, kiranya ada bantuan dari donatur lain agar renovasi rumah korban dapat cepat terealisasi hingga korban dapat nyaman tinggal dirumahnya seperti sedia kala," pungkasnya mengakhiri perbincangannya bersama Media PETA.

Rep : M.Rafiq
Ed : Heri Tambora

thumbnail

Posted by On 12:16:00 AM

Jakarta, Pewarta Tambora - Selang beberapa jam kebakaran yang melanda wilayah Angke, kini kebakaran terjadi di wilayah Laksa 4 tepatnya di perbatasan antara wilayah RT.09 dan RT. 011/02, Kelurahan Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, Selasa (10/10/2017) sekira pukul 20.00 WIB.

Informasi yang didapat Media PETA, kronologis kebakaran diduga akibat korsleting listrik yang terjadi pada salah satu rumah padat penduduk, hingga menghanguskan sedikitnya satu rumah

Pantauan Tim Media Pewarta Tambora, tampak keberadaan Lurah Jembatan Lima, Djoni Palar bersama jajarannya di lokasi kebakaran.

"kebetulan saya sedang ada acara dimonas,  mendengar diwilayah ada kebakaran,  saya bersama staf langsung kemari," Ujar Lurah Jembatan Lima, Djoni Palar di lokasi kebakaran.

Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 20.00 WIB itu mulanya diketahui warga dari kepulan asap dan bau hangus, dan pemadaman kebakaran dilakukan petugas selama sekitar satu jam.

Hingga berita ini disusun, belum diketahui pasti penyebab kebakaran dan kerugian yang ditaksir. Adapun korban luka ringan akibat kebakaran kini sedang dalam penanganan pihak rumah sakit.

Rep : M.Rafiq

thumbnail

Posted by On 5:00:00 PM

Jakarta, Pewarta Tambora - Kebakaran di Angke hanguskan 6 rumah, kebakaran diduga berasal dari sebuah rumah dipemukiman padat, tepatnya di Jalan Padamulya IX dan X RT.07/09, Kelurahan Angke, Tambora, Jakarta Barat, Selasa (10/10/2017). Sekira Pukul 14.15 WIB.

Kebakaran pertama kali diketahui oleh Heru (45) yang sedang menuju warung, seketika melihat asap mengepul dari salah satu atap rumah yang ada di wilayah Padamulya IX RT.07/09, kemudian api dari bagian bawah menjalar dan membakar rumah milik Mukenah, H.Sarimin (Ketua RW.09), serta rumah milik Sujatno.

Selanjutnya, Heru (45) yang menjadi saksi dibantu warga setempat bersama warga serentak membantu memadamkan api dibantu dengan petugas Damkar Pimpinan R.Romlih dengan mengerahkan 20 Unit DPK, hingga pukul 15.00 WIB api dapat dipadamkan.

Hingga berita ini disusun, kebakaran yang menghanguskan 6 rumah tersebut, terbuat dari bangunan tembok serta kayu yang mudah terbakar, belum diketahui kerugian yang ditaksir, dan kini kasus kebakaran ditangani Unit Reskrim Polsek Tambora.

Rep : Yustrisna/M.Rafiq

thumbnail

Posted by On 5:33:00 PM

Jakarta, Pewarta Tambora - Perlintasan kereta api Angke kembali memakan korban jiwa satu pengendara motor tewas seketika terseret kereta api sejauh kurang lebih 50 meter, jurusan Manggarai - Bogor, Jumat (6/10) sekira pukul 16.20

Hingga berita ini disusun, sampai saat ini identitas korban belum di ketahui dan belum di temukan surat kendaraan motornya,



thumbnail

Posted by On 11:03:00 AM

AKBP Saptono, ketika berdialog dengan warga yang menuntut tersangka Wartono dibebaskan
Blora, Pewarta Tambora - Aksi yang tergolong nekat telah dilakukan oleh sekawanan pencuri kayu jati dengan menyandera seorang petugas Perum Perhutani KPH Randublatung, pada Sabtu (30/9) kemarin.

Penyanderaan terhadap Santoso (50) yang merupakan seorang petugas Perum Perhutani KPH Randublatung, terjadi lantaran satu dari sekawanan pencuri kayu bernama Wartono (28) ditangkap oleh petugas pada operasi rutin yang di lakukan di wilayah hutan petak 69 RPH Sumengko, BKPH Boto, KPH Randublatung, turut Desa Bodeh, Kecamatan Randublatung, Sabtu (30/9) kemarin.

Setelah melalui proses mediasi yang cukup alot, akhirnya Kapolres Blora AKBP Saptono, S.I.K, M.H, berhasil membebaskan Santoso (50) pegawai Perum Perhutani yang ditangkap dan disandera oleh sekawanan pencuri kayu jati Sabtu (30/9) lalu.

"Setelah melakukan proses dialog yang cukup alot dan panjang. Alhamdulillah, pukul 16.30 WIB Santoso berhasil kita keluarkan dan kita bebaskan," kata AKBP Saptono, Senin, (2/10/2017). Sebagaimana dilansir Tarranews.com.

 Korban Santoso (tengah) diapit oleh Adm Perhutani KPH Randublatung, dan Kasat Lantas AKP Febriyani Aer
Operasi pembebasan sandera yang dipimpin langsung oleh perwira polisi dengan dua melati dipundak tersebut sempat beberapa kali tidak menemui titik temu. Bahkan suasana tiba-tiba menjadi ricuh kembali lantaran warga kembali menuntut agar tersangka Wartono (28) segera dibebaskan ditukar dengan Santoso (50).

"Sebelumnya memang saya sudah diberitahu oleh intel bahwa suasana semakin tidak kondusif, bahkan info yang masuk, sekawanan penyandera sempat merusak  Pos 77 BKPH Boto, KPH Randublatung. Mereka semakin kalap, memecahkan kaca jendela dan melempari Pos 77 dengan batu," ujar AKBP Saptono.

AKBP Saptono, kembali mengatakan, dirinya bersama dengan anggota yang lain lagi-lagi kembali di hadang oleh sekelompok warga agar tidak dapat bertemu dengan Kades Dukuh Bapangan, Desa Menden, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, guna melakukan negosiasi.

"Saya sempat berfikir untuk bersikap tegas memerintahkan anggota yang sudah dipersenjatai dengan lengkap waktu itu. Akan tetapi niat tersebut kembali saya urungkan. Saya kembali berfikir jika sampai terjadi bentrokan pasti akan jatuh korban di kedua belah pihak," tukasnya.

Ditengah kerumunan warga yang terlihat semakin emosi, dan menuntut Polisi agar tersangka Wartono segera dibebaskan. Masih penuh dengan kesabaran AKBP Saptono, mencoba memberikan penjelasan kepada para warga, bahwa persoalan tersebut sudah menjadi tanggungjawab pihak yang berwajib.

Penjelasan dari Kapolres Sepertinya masih belum dapat diterima oleh warga, warga juga masih bersikukuh, bahwa hal itu sudah menjadi syarat mutlak jika ingin Santoso dibebaskan.

"Bebaskan Wartono, tukarkan dengan Santoso," yel yel teriakan dari warga semakin membuat suasana semakin menjadi kembali ricuh dan gaduh.

Kapolres kembali meyakinkan kepada seluruh warga, bahwa Wartono akan baik-baik saja. Bahkan Kapolres juga memberikan fasilitas bagi warga yang menjenguk Wartono di ruang tahanan Mapolres Blora.

"Disini saya menjaminkan diri saya atas tersangka Wartono. Semua akan kami fasilitasi bagi warga yang ingin menjenguk Wartono di ruang tahanan Polres Blora. Baik Polres Blora dan Polsek Kradenan, akan memfasilitasi semua," tandasnya.

Sepertinya penjelasan dari Kapolres kali ini mulai dapat diterima oleh warga. Hingga pada akhirnya, peoses negosiasi tersebut membuahkan hasil. Sabtu (30/9) pukul 16.30 WIB, korban penyanderaan Santoso dapat dipertemukan dengan pihak polisi, untuk kemudian dibebaskan.

"Rasa syukur kami ucapkan kepada Allah Subhanallahu Wa Ta'ala yang telah memberikan perlindungan kepada saya dan anggota yang bertugas saat itu. Bagi kami ini adalah pelajaran yang dapat dipetik hikmahnya, meski dalam kondisi berbahaya sekalipun, kami ingin menunjukkan bahwa Polisi itu adalah sahabat, teman dan pelayan bagi masyarakat," pungkasnya. (Her/Ari Prayudhanto/ TN).

thumbnail

Posted by On 12:32:00 AM

Pewarta-Tambora, Pekojan - Pemerintah Kelurahan bersama petugas Damkar, 3 Pilar, RT/RW, FKDM, RGC, PPSU dengan seluruh masyarakat, serentak bersatu dan melayani penanganan Pasca Jaya 65, di Jalan Pengukiran 3, RT.013/03, Kelurahan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, Sabtu (23/9/2017).

Pasca kebakaran yang terjadi di pengukiran pada Jumat, 22/9, kini sedang dalam penanganan Damkar, BPBD DKI Jakarta, PMI Jakart Barat, PLN Posko Bandengan, AGD Dinkes, Satpol PP Kecamatan Tambora, PSK dan Tagana Sudin Sosial Jakarta Barat.

Adapun upaya yang sudah ditangani BPBD DKI Jakarta dengan membantu proses koordinasi dengan PLN terkait pemutusan arus listril untuk proses pemadaman melalui PUSDATIN kebencanaan (So1, So2 dan Call Center Jakarta Siaga 112).

Selanjutnya, membantu proses koordinasi dengan proses koordinasi dengan SKPD terkait melalui Pusat Data dan Informasi Kebencanaan dan Call Center Jakarta Siaga 112, selanjutkan Tim Piket BPBD melakulan Assesment ke Lokasi Kebakaran dan melakukan koordinasi dengab SKPD terkait.

Hingga berita ini disusun, terkait informasi yang diterima melalui chat WAG, kebakaran di Pekojan mengakibatkan salah seorang orang petugas terjatuh dari tangga hingga dirujuk ke Rumah Sakit Tarakan, Jakarta.

Lurah Pekojan Tri Prasetyo Utomo, menyampaikan kepada seluruh masyarakat Pekojan agar selalu berhati-hati terhadap potensi terjadinya kebakaran.(Lutfi)

thumbnail

Posted by On 11:55:00 PM

Pewarta Tambora, Pekojan - Kebakaran terjadi di sebuah rumah konfeksi di kawasan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat. Sebanyak 20 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan si jago merah.

"Yang terbakar rumah konfeksi diduga rumah tersebut milik Irawan, sebanyak 20 Unit mobil damkar sedang berjibaku," kata warga setempat. Jumat (22/9/2017).

Sumber Tim PETA menyampaikan Kebakaran terjadi di Jl.Pengukiran 3 RT.002 RW.03, Pekojan, Tambora, Jakbar, pada pukul 23.50 WIB. Petugas pemadam sedang berjibaku memadamkan api.



"Informasi di lapangan pada pukul 24.00 WIb, api masih menyala. Rumah permanen yang terbakar," lanjutnya.

Hingga berita ini disusun, belum diketahui penyebab kebakaran maupun total kerugian yang dialami. Petugas pemadam kebakaran masih berupaya mengendalikan api.(Budi/Yus)

thumbnail

Posted by On 9:32:00 AM



Pewarta-Tambora.com, Langsa - Ketua Umum PPWI Nasional, Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA merasakan prihatinnya, terkait dengan beredarnya sebuah video bernuansa sadisme melalui kiriman WhatsApp ke beberapa warga yang diduga dilakukan oleh seorang oknum Walikota di Provinsi Aceh, video yang memperlihatkan peristiwa penyiksaan dan pembunuhan dengan memenggal leher korban oleh sekelompok orang berpakaian ala militer, pada Senin, 11 September 2017.

Terkait dengan kasus tersebut, Ketua Umum PPWI Nasional, Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA menyampaikan rasa prihatin yang sangat mendalam dan meminta semua warga meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman pembunuhan yang berkemungkinan didalangi oleh oknum penyebar video sadis tersebut. Pasalnya, menurut lulusan PPRA-48 Lemhanas RI tahun 2012 itu, sikap dan perilaku sadistis seperti yang ditunjukkan oknum walikota berinisial UA itu terindikasi kuat sebagai gejala psikopat.

"Pola pikir, sikap, dan perilaku sadisme biasanya diperlihatkan oleh orang-orang yang diduga mengidap psikopat, seperti yang ditunjukkan oleh oknum Walikota Langsa itu. Jadi seluruh warga tanpa kecuali harus senantiasa waspada terhadap yang bersangkutan," ujar Wilson melalui pesan WhatsApp-nya, seperti dirilis redaksi KOPI, Minggu (17/9/2017).

Secara teori, lanjutnya, psikopat dipahami sebagai 'sakit jiwa'. "Tapi bukan gila yaa, beda. Psikopat adalah penyakit kejiwaan yang diidap seseorang, namun pikirannya dalam kondisi sadar, normal seperti orang kebanyakan. Dalam banyak kasus, penderita psikopat memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Untuk lebih detilnya, para ahli kesehatan jiwa yang perlu menjelaskan," ungkap Wilson yang pernah kuliah di Inggris, Belanda, dan Swedia itu.

Salah satu ciri umum seorang psikopat adalah gemar bersikap dan bertindak sadis tanpa merasa bersalah, bahkan merasa bahagia ketika berhasil melakukan tindakan brutal, semisal menggorok leher korbannya. "Seorang psikopat merasa tidak berbeda sama sekali ketika memotong leher ayam dan menggorok leher manusia, sama saja rasanya, tiada rasa empati, tidak merasa bersalah, bahkan sebaliknya merasa senang dan bahagia melakukannya," imbuh pria kelahiran Sulawesi Tengah ini.

Dari video yang dikirimkan oleh oknum Walikota UA ke anggota PPWI, BW, ditambah 2-3 potong percakapan antara sipengirim video dengan BW, Wilson menduga kuat bahwa yang bersangkutan terindikasi mengidap kelainan jiwa alias psikopat. Untuk itu, selain mengingatkan warga waspada, ia juga mendesak agar aparat berwenang, termasuk tenaga kesehatan jiwa, memberikan perhatian serius terhadap kasus ini dan mengambil langkah-langkah antisipatif serta tindakan medis atau apapun yang diperlukan.

"Jangan menunggu ada korban digorok dulu baru sibuk melakukan penanganan. Yaa, semasih belum ada korban jiwa, jika indikasi psikopatinya sudah cukup kuat, harus segera diambil tindakan penanganan," jelas Wilson yang pernah mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara Jakarta itu.

Sebagaimana ramai diberitakan bahwa Senin, tanggal 11 September lalu, beberapa wartawan menerima kiriman via WA sebuah video berisi penyiksaan, potong kaki dan tangan, dan kemudian disembelih lehernya hingga putus, oleh sekelompok orang berpakaian hijau loreng. Video itu dikirim dari nomor kontak pribadi yang mereka kenal sehari-hari sebagai Walikota Langsa, Aceh. Wartawan media online beritanya.info yang juga anggota PPWI Langsa mencoba mengkonfirmasi maksud pengiriman video tersebut kepada oknum walikota. Kuat dugaan, pengiriman video itu terkait erat dengan pemberitaan tentang sejumlah proyek yang terindikasi tidak beres, berbau mark-up, kolusi, dan korupsi, di lingkungan Pemko Langsa.(Her/rls)