Popular Posts

Kategori

Follow by Email

thumbnail

Diposting oleh On 9:39:00 PM


Jakarta - Persiapan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 90 oleh panitia dari Lembaga Kota Tua Heritage (LKTH) terus dilakukan. Mulai dari audiensi, koordinasi, pengecekan lokasi bahkan sampai pada persiapan sarana dan prasarana.

Hal itu diungkapkan Ketua Panitia Hari Sumpah Pemuda ke 90 dari Lembaga Kota Tua Heritage (LKTH). "Saat ini persiapan yang dilakukan panitia sudah dilakukan," ujar Asep Gunawan yang akrab disapa dengan sebutan Bang Ireng di Warung Cengkeh, Kamis (11/10/2018)

Menurut Bang Ireng, saat ini tinggal mempersiapkan hari H, yang mana kegiatan Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 90 itu insya Allah akan dilaksanakan di Halaman Taman Fatahillah, Kota Tua, 28 Oktober 2018.


"Kita juga sudah sampaikan ke rapat yang mana juga insya allah akan dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, tokoh masyarakat, pemuda, budayawan, perwakilan organisasi masyarakat, instansi terkait serta undangan lainnya," terangnya.

Hal senada disampaikan Andi M. Nirwansyah selaku Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Kota Tua Heritage, bahwa pelaksanaan sumpah pemuda ini merupakan wujud patriotisme dan nasionalisme, sekaligus  menjadi salah satu bentuk pertama dalam menyatukan pemuda Indonesia dari berbagai suku, agama dan ras

"Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kami kepada bangsa dan negara Indonesia,  terutama untuk mempersatukan para pemuda dalam membangun karakter dan budaya bangsa Indonesia serta mempertahankan nilai luhur budaya lokal dan jati diri bangsa Indonesia," jelasnya.

Lebih lanjut, Andi juga mengharapkan agar setiap pemuda bangsa Indonesia, tanpa melihat suku, etnis, agama maupun ras. "Tentunya dapat memberikan sumbangsihnya untuk bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia," pungkasnya mengakhiri.

thumbnail

Diposting oleh On 5:59:00 PM


Pekojan, terletak di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Yang merupakan salah satu tempat bersejarah  di Jakarta. Daerah Pekojan pada era kolonial Belanda dikenal sebagai perkampungan Arab. Meskipun saat ini mayoritas penduduk yang tinggal di sana adalah etnis tionghoa.

Pemerintah kolonial Belanda pada abad ke-18 menetapkan wilayah Pekojan sebagai perkampungan Arab. Kala itu, para imigran yang datang dari Hadhramaut (Yaman) diwajibkan untuk tinggal di Pekojan terlebih dahulu. Setelah itu baru mereka dapat pergi ke berbagai kota dan daerah.

Di Pekojan, Pemerintah Belanda menerapkan aturan passen stelsel dan wijken stelsel. Bukan saja menempatkan mereka dalam ghetto-ghetto (kampung khusus), tetapi juga mengharuskan mereka memiliki pas atau surat jalan bila akan bepergian keluar daerah. Sistem semacam ini diterapkan juga di kampung Ampel Surabaya dan kampung-kampung Arab lainnya di nusantara.

Kampung Pekojan merupakan cikal bakal dari sejumlah perkampungan Arab yang kemudian berkembang di Batavia. Dari tempat inilah mereka kemudian menyebar ke Krukut dan Sawah Besar, Jati Petamburan, Tanah Abang dan Kwitang, Jatinegara dan Cawang.


Jamiatul Khair

Di Pekojan, pada awal abad ke-20 (1901) berdiri organisasi pendidikan islam, Jamiatul Khair, yang dibentuk oleh dua bersaudara Shahab, yaitu Ali dan Idrus, disamping Muhammad Al Masyhur dan syaikh Basandid. Beberapa orang murid Jamiatul Khair yang kemudian dikenal sebagai tokoh pergerakan tanah air diantaranya adalah, KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dan HOS Tjokroaminoto (pendiri Syarikat Islam yang sekaligus mertua dari Bung Karno).

Jamiatul Khair banyak mendatangkan surat kabar dan majalah dari Timur Tengah. Organisasi ini juga melakukan korespondensi (surat-menyurat) dengan tokoh-tokoh pergerakan dan surat kabar luar negeri. Dengan demikian kabar-kabar mengenai kekejaman penjajah Belanda di Indonesia dapat sampai ke dunia luar, antara lain karena melalui Jamiatul Khair. Snouck Hurgronje, seorang orientalis yang berperan besar dalam penaklukan Aceh, dengan terang-terangan bahkan menuding Jamiatul Khair membahayakan pemerintah Belanda. Melalui siswa-siswanya, Jamiatul Khair ikut berkontribusi dalam perjuangan membebaskan tanah air dari cengkeraman para penjajah serta melakukan syiar islam ke seluruh nusantara.


Bangunan bersejarah

Sebelum ditetapkan sebagai kampung arab, daerah Pekojan dahulu dihuni oleh muslim Koja (Muslim India). Sampai kini masih terdapat Gang Koja, yang telah berganti nama menjadi Jalan Pengukiran II. Di sini terdapat sebuah Masjid kuno Al Anshor yang dibangun pada 1648 oleh para muslim India. Tak jauh dari tempat ini, kira-kira satu kilometer perjalanan, terdapat Masjid Kampung Baru yang dibangun pada pertengahan abad ke-18.

Di Pekojan masih banyak terdapat bangunan-bangunan peninggalan tempo dulu. Misalnya Masjid Langgar Tinggi, yang dibangun pada abad ke-18. Masjid ini telah diperluas oleh Syaikh Said Naum, seorang Kapiten Arab. Ia memiliki beberapa kapal dagang dan tanah yang luas di Tanah Abang, yang sebagian telah diwakafkannya untuk tempat pemakaman.


Langgar Tinggi di Pekojan.

Di dekat Langgar Tinggi terdapat sebuah jembatan kecil yang dinamai Jembatan Kambing. Dinamakan demikian, karena sebelum dibawa untuk disembelih di pejagalan (sekarang bernama Jalan Pejagalan), kambing harus melewati jembatan yang melintasi Kali Angke ini terlebih dahulu. Para pedagang di sini telah berdagang secara turun-temurun selama hampir 200 tahun.

Terdapat juga Masjid An Nawier, yang merupakan tempat ibadah yang terbesar di Pekojan. Masjid ini pada tahun 1920 diperluas oleh Habib Abdullah bin Husein Alaydrus, seorang kaya raya yang namanya diabadikan menjadi Jalan Alaydrus, di sebelah kanan Jalan Gajahmada. Pendiri Masjid ini adalah Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya.

Di dekat Masjid An Nawier, terdapat Az Zawiyah, sebuah bangunan untuk ibadah dan pendidikan islam yang didirikan oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas, seorang ulama asal Hadhramaut. Beliau juga merupakan guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, seorang ulama besar yang kemudian berdakwah di daerah Bogor.

Banyak tokoh-tokoh besar yang berasal dan memiliki kaitan sejarah dengan kampung Pekojan. Di antaranya adalah Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya yang pernah menjabat sebagai mufti di Betawi. Juga Habib Ali bin Abdul Rahman Al Habsyi, pendiri majlis taklim Kwitang yang sempat belajar pada Habib Utsman di Pekojan. Ada juga seorang ulama besar asli kelahiran Pekojan yang merupakan guru dari syaikh Nawawi Al Bantani. Beliau adalah syaikh Junaid Al Batawi yang sampai akhir hayatnya menjadi guru dan imam di Masjidil Haram. Syaikh Junaid Al Batawi juga diakui sebagai Syaikhul Masyayikh (Mahaguru) dari ulama-ulama madzhab Syafi’i mancanegara pada abad ke-18. beliau pulalah yang pertama kali memperkenalkan nama Betawi di luar Indonesia. (ril/bdn)

thumbnail

Diposting oleh On 2:46:00 PM


Bisa dibilang Kampung Jembatan Lima yang ada di Jakarta itu terbilang unik. Selain karena sejarahnya juga kondisi kampung tersebut sampai kini. Sesuai dengan namanya Jembatan Lima, konon kabarnya di daerah ini dahulunya ada lima buah jembatan yang dilalui oleh sungai Jembatan Lima. Adapun kelima jembatan tersebut ialah :

- jembatan yang ada di Jalan Petak Serani, sekarang bernama Jalan Hasyim Ashari;
- jembatan yang ada di daerah Kedung (Jembatan Kedung), sekarang bioskop Dewi yang termasuk wilayah Kelurahan Tambora;
- jembatan yang ada di muka Jalan Petuakan;
- jembatan yang ada di Kampung Masjid sekarang Jalan Sawah Lio 2
- jembatan yang ada di Kampung Sawah Gang Guru Mansyur, sekarang Jalan Sawah Lio 1.

Jembatan yang ada di Jalan Sawah Lio 1 dahulunya merupakan jembatan yang terbesar. Namun sekarang kelima jembatan itu tidak ada lagi, bahkan sungainya pun demikian. selain sungai Jembatan Lima, di kampung ini dialiri pula oleh sungai Cibubur. Dinamakan cibubur karena sungai ini seperti bubur, kotor, dan banyak lumpur.

Di wilayah Jembatan Lima dahulunya terdapat nama kampung, jalan, atau gang yang sekarang namanya ada yang sudah hilang misalnya Kampung Sawah Lio, Patuakan, Kerendang, Petak Serani, Gudang Bandung, Teratai, Tambora, Gang Laksa, Gang Daging, dan lain-lain.

Dinamakan sawah Lio karena dahulunya selain ada sawah juga terdapat tempat pembakaran batu bata (lio) yang tempatnya dekat jembatan. Kampung sawah Lio wilayahnya meliputi Kampung, sawah Gang Guru Mansur dan Kampung Sawah Masjid.

Disebut Kampung sawah Gang Guru Mansur karena disana tinggal seorang tokoh dan guru agama lslam bernama Kiyai Haji Moch. Mansur dan Kampung Sawah Masjid karena terdapat Masjid Al Mansur.

Kampung Sawah Gang Guru Mansur sekarang bernama Jalan Sawah Lio 1, sedangkan kampung Sawah Masjid menjadi Jalan Sawah Lio 2. Di Kampung Sawah Gang Guru Mansur terdapat sebuah gang yang disebut Gang Laksa, karena disana tinggal beberapa orang kaya yang mempunyai uang berlaksa-laksa (berjuta-juta). Para jutawan tersebul ialah H. Djakarta pemilik empang-empang yang ada di daerah Pasar lkan dan H. Tosim pemilik rumah-rumah sewaan.

Di Jembatan Lima dahulunya ada kampung yang selalu tergenang/terendam air (banjir) katau musim hujan, oleh sebab itu disebut kampung Kerendang. Adapun dinamakan kampung Patuakan karena disana tempat mangkal penjual minuman tuak.

Nama petak Serani dikarenakan dahulunya ada petak-petak yang dihuni oleh orang-orang Serani (Kristen). Selain terdapat sawah, dikampung Jembatan Lima ada rawa-rawa yang dipenuhi oleh bunga teratai, sehingga oleh penduduk tempat ini disebut kampung Teratai.

Nama Tambora karena tiap pagi di asrama tentara terdengar suara tambur dan disebut jalan Gudang Bandung karena dahulunya ditempat itu ada gudang tempat penyimpanan barang-barang yang akan dikirim dengan kereta api ke Bandung.

Gang Daging dan Gang Kiarapun dahulunya mempunyai nama tersendiri, disebut Gang Daging karena di gang itu sebagian besar penghuninya tukang-tukang daging sedangkan Gang Kiara karena disana ada pohon kiara.

Kampung Jembatan Lima pada masa pemerintahan Belanda masuk kawedanan Penjaringan kelurahan Angke Duri, dan yang menjadi kepala kampung di jembatan Lima pada waktu itu adalah Bek Akhir, Bek Latip dan Bek Marzuki.

Pada masa pendudukan Jepang kampung Jembatan Lima masuk wilayah Penjaringan Son (kecamatan) dan kelurahan Angke Duri. Pada masa pendudukan Jepang yang menjadi kepala kampung ialah bek Ramadan.

Pada masa kemerdekaan wilayah Jembatan lima dibagi atas 3 kelurahan yaitu : Kelurahan Tambora, Kelurahan Jembatan Lima dan Kelurahan Pekojan. Adapun yang menjabat sebagai kepala kampung ialah bek Salamun.

Dahulu kampung Jembatan Lima masih merupakan hutan yang ditumbuhi oleh bermacam-macam tanaman yaitu pohon kelapa, bambu, jati, sawo, rambutan, mangga dan lain-lain. Penduduknya jarang dan dapat dihitung dengan jari, tinggal berkelompok-kelompok dan tidak jauh dari kebun mereka.

Mata pencahariannya ialah bertani dan berdagang buah-buahan. Kampung ini sulit untuk dihubungi orang-orang dari luar karena jalan-jalan yang ada disana masih berupa jalan setapak. Baru setelah tahun 1920-an datang orang-orang dari luar yaitu dari Banten. Mereka merupakan orang-orang dari luar pertama kali tiba di Jembatan Lima, karena letaknya tidak begitu jauh dari tempat tinggal mereka dan transportasi ke Jembatan Lima dapat dicapai dengan kereta api.

Orang-orang dari Banten ini tinggal di tanah wakaf yaitu di Gang Kiara. Mereka mencari nafkah dengan menjadi kuli panggul di stasiun Angke Duri dan Beos atau di pasar-pasar. Tetapi setelah transportasi di Jembatan Lima lancer karena mulai adanya jalan raya yang menghubungkan daerah itu dengan tempat-tempat lainnya maka berdatanganlah orang-orang dari luar yaitu dari daerah Bogor, Cirebon, dan Tasik Malaya.

Mereka mencari nafkah dengan berdagang makanan dan barang-barang kerajinan misalnya ; Orang-orang Bogor berdagang nasi dan kopi; Orang-orang dari Cirebon berdagang gado-gado, orang-orang Tasik Malaya dagang barang-barang kerajinan seperti payung, kelom geulis dan tas. Sedangkan Orang-orang Tegal dagang nasi di pasar.

Orang Betawi sendiri bekerja di toko-toko atau perusahaan-perusahan swasta, ada yang menjadi pelayan toko, juru tulis, jaga malam atau mandor.

Sejak adanya pesantren di kampung Sawah Lio yang dikelola oleh Kyai Haji Moch. Mansur maka Jembatan Lima mulai kedatangan orang-orang dari daerah Sumatra yaitu dari Lampung, Palembang dan Padang.

Mereka datang ke Jembatan Lima hanya untuk menuntut ilmu di Pesantren K.H. Moch. Mansur, kecuali orang Padang untuk menyambung hidupnya berjualan kopiah di pasar Jembatan Lima. Orang-orang Cina tidak ketinggalan pula datang ke Jembatan Lima, mula-mula hanya tiga keluarga. Mereka tinggal di Kampung Sawah Lio, membuka warung-warung untuk kebutuhan sehari-hari.

Lama kelamaan jumlah mereka yang tinggal di kampung Jembatan Lima menjadi meningkat sehingga penduduk aslinya banyak yang terdesak, menjual rumah mereka ke orang Cina dan mereka sendiri pindah kedaerah Tanah Abang dan Kebayoran Lama.

Suasana kampung, dimana udara yang sejuk dan nyaman banyak pohon-pohon rindang serta rumah penduduk yang masih jarang dahulu masih dapat kita jumpai di kampung Jembatan Lima. Tetapi sekarang, keadaan yang seperti itu tidak ada kita jumpai iagi, yang ada hanyalah tempat-tempat usaha dan hiburan berderet disekitar Jalan K.H. Moch. Mansur.

Bangunan-bangunan lama yang ada disana sebagian besar sudah punah diganti oleh rumah-rumah mewah dan bangunan yang masih ada serta terawat sampai sekarang adalah bangunan Masjid Jami Al Mansur. Masjid ini didirikan oleh Abdul Mihit yaitu putra Pangeran Tjakrajaya sepupu dari Tumenggung Mataram, pada tahun 1717. Karena letak arah kiblat Masjid ini tidak benar maka oleh H. Imam Moh.

Arsjad Banjarmasin (pengarang kitab Sabilah Muhtadin) dengan permufakatan bersama para ulama pada waktu itu maka letak arah kiblat dari Masjid Al Mansur dibetulkan pada tanggal 1 Agustus 1767. Kemudian oleh K.H. Moh. Mansur diadakan perluasan bangunan masjid dan untuk menjaga agar tempat ibadah ini tetap terpelihara dengan baik berikut makam-makam para ulama/aulia maka disekelilingnya dipagar dengan tembok pada tahun 1957. Dalam perjuangan menentang penjajahan Belanda, masjid ini ikut pula berperan karena oleh K.H. Moh Mansur masjid ini dijadikan pusat latihan penggemblengan mental para pejuang yang akan bertempur menentang penjajahan Jepang dan Belanda.

Penduduk kelurahan Jembatan Lima yang mayoritas berasal dari kaum pendatang, mereka memeluk berbagai macam agama. Menurut informasi yang kami peroleh dari kelurahan Jembatan Lima, berdasarkan prosentase penduduk yang menganut agama Islam ada 60%, Kristen Katholik 14%, Budha Hindu ada 25,75% dan selebihnya menganut aliran kepercayaan. Walaupun menganut agama yang beragam tetapi mereka sangat toleransi dalam kerukunan beragama.

Tradisi lama yang masih berlaku di Jembatan Lima, umumnya sama dengan daerah-daerah lainnya diwilayah DKI Jakarta. Namun demikian daerah Jembatan Lima ini mempunyai keunikan tersendiri terutama mengenai tata cara perkawinan yang berlaku dikalangan keluarga Cina. Setelah mereka berpacaran kemudian mereka berikrar akan bertunangan.

Dalam acara pertunangan (tukar cincin) diadakan pertemuan antara pihak laki-laki dengan pihak perempuan dihadiri lebih dari sepuluh orang. sebagai tanda pengikat pihak laki-laki akan memberikan kalung emas. sebulan sebelum pernikahan dilakukan acara membesan, dari pihak laki-laki membawa 10 stel atau selusin bahan pakaian, buah-buahan seperti apel, jeruk, kelengkeng dan makanan seperti kue Kwoku, kue campur kacang tanah, kacang tanah, kwaci dan makanan kaleng.

Perkawinan dilakukan di kantor Catatan Sipil tetapi bila hanya perkawinan adat (dibawah tangan) cukup lapor ke kelurahan saja. Pesta perkawinan biasanya dilangsungkan di rumah atau restoran. Kendaraan yang dipakai oleh pengantin biasanya dihiasi dengan bunga, pita dan boneka. (dbs/ren)

thumbnail

Diposting oleh On 4:20:00 PM

KUNINGAN - Tidak sedikit warga masyarakat desa Kecamatan Darma mengadakan pesta pernikahan dengan memakai halaman rumah, seperti halnya pasangan Adit Hendra (Adit) dengan Ira Handayanti (Ira).

Formal tapi Santai, begitulah suasana Resepsi Pernikahan Adit dan Ira di Halaman Rumah pengantin pria, di Desa Gunung Luhur Desa Darma, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Senin (20/8/2018) pagi, berlangsung meriah.

Konsep acara sederhana, namun tidak meninggalkan kesan elegan mewarnai setiap sudut ruangan di acara ijab kabul sekaligus resepsi pernikahan kedua mempelai tersebut.

Pengurus GMN (GemaMedia Network) masuk ke daftar undangan resepsi pernikahan Adit dan Ira, kesan formal bahwa ini adalah acara adik ipar dari seorang Pengurus GMN, Heri Tambora, yakni saudari Ira, begitu terasa saat memasuki ruangan resepsi pernikahan tersebut.



Menjajaki acara Ijab kabul dimulai hingga berakhir, terasa acara tersebut benar-benar khidmat dan penuh dengan haru menyelimuti bagi para keluarga khusunya pengantin wanita.

Sebelumnya, di lokasi, tampak para panitia dari keluaraga pihak pria terlihat dari sudut masuk ruangan ijab qobul dan resepsi, adapula mereka meminta para pihak keluarga wanita untuk mengisi bangku yang telah disediakan untuk menyaksikan ijab qobul.

"Alhamdulillah prosesi Ijab Qobul berjalan dengan lancar, tentunya ini semua karena niat dan juga doa dari kedua belah pihak keluarga, terlebih acara ini terlihat dengan nuansa islami dengan sentuhan budaya setempat," ujar Mang Eson Ketua RT. Desa Bakom.

Ditempat sama, Neni Yuliana isteri Pengurus GemaMedia Network, selaku sohibul hajat dari pengantin perempuan menyampaikan terimakasihnya kepada para tamu undangan yang telah mengantarkan kami selaku keluarga perempuan menuju tempat pengantin pria.

"Kami mewakili sohibul hajat pengantin perempuan mengucapkan terimakasih atas doa restunya dan menyampaikan permohonan maaf kiranya apabila ada jamuan atau hidangan yang tersedia kurang berkenan dihati para tamu undangan," ujar Neni Yuliana.

Terlihat sebuah tenda dengan deretan kursi berdiri anggun di sisi kiri dan kanan, selepas acara ijab kabul usai, para pihak keluarga pria meminta para pihak keluraga perempuan untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan, namun ada juga yang memanfaatkan moment tersebut untuk berfoto ria bersama pengantin

thumbnail

Diposting oleh On 1:34:00 PM

PEWARTA-TAMBORA.COM, JAKARTA - Kampung Budaya Betawi Ancol kini memiliki beragam acara menarik untuk ditampilkan kepada masyarakat maupun publik pada setiap minggunya.

Setelah sebelumnya mengulas tentang hari lahir Jakarta, Kisah Si Pitung, dan Cerita Dari Kampung Cidodol Jakarta, Sabtu (14/7), kini di akhir pekan ini Kampung Budaya Betawi Ancol, Minggu (15 Juli 2018), kembali menampilkan talkshow dengan tema Cerita Sejarah Kampung Luar Batang.

Pagelaran talkshow yang dihelat di Gedung Nort Art Space (NAS), Pasar Seni Ancol, yang juga menjadi tempat pemeran Wall Of Frame Betawi tersebut menampilkan pembicara Tokoh Kampung Luar Batang, sekaligus Ketua Umum Sunda Kelapa Heritage, Daeng Mansur. Selain itu juga hadir Candrian Attahiyyat, Arkeolog UI sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya Pemprov DKI Jakarta.

Menurut Sejarah, Kampung Luar Batang yang berada di wilayah Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, memiliki sebuah Masjid bersejarah yang dibangun pada tahun 1739 oleh Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus. Masjid tersebut merupakan bagian dari cagar budaya yang dilindungi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Indonesia tentunya menjadi salah satu Negara yang paling banyak disinggahi para wali - ulama Muslim yang diyakini memiliki beragam keramat atau kemampuan di luar nalar. Salah satunya yakni Habib Husein bin abubakar Alaydrus,” ungkap Daeng mengawali pembicaraannya kepada Media ini.

Hingga saat ini, makam beliau di Sunda Kelapa, Jakarta Utara ramai dikunjungi peziarah dari dalam maupun luar negeri. Kebanyakan dari mereka datang mengharap berkah atau jalan keluar masalah, namun tak jarang juga yang datang hanya ingin mengenal siapa sebenarnya Habib Husein Luar Batang.

Daeng menambahkan, bahwa Habib Husein bin Abdullah bin abu bakar Alaydrus atau sekarang dijuluki Habib Husein Luar Batang berasal dari Hadhramaut, Yaman Selatan. Beliau hijrah meninggalkan tanah airnya setelah mendapat restu dari sang IBU. Keputusan untuk pergi menyebarkan Islam ia ambil pasca Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad gurunya meninggal dunia tahun 1720.

“Awalnya, ia singgah di Gujarat, India, namun tak lama pindah ke nusantara. Beliau sempat menyambangi Aceh, Banten, Cirebon, dan Jawa Timur. Namun akhirnya memutuskan untuk menetap di sunda Kelapa,” ujarnya.

Sunda Kelapa itu sendiri, menurut Daeng Mansur, adalah sebuah kota lama, juga dikenal dengan pasar Ikannya Jakarta, pada waktu itu termasuk Bandar yang paling ramai di Pulau Jawa. Di tepi pantai terlihat rumah-rumah nelayan dan warung-warung yang mereka kelola sebagai usaha sampingan.

Singkat cerita, nama Luar Batang sendiri yang kini tidak hanya menjadi julukannya, namun menjadi nama Masjid dan kampong disana dan itu memiliki kisah sendiri, pasca wafatnya almarhum Habib Husein bin Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus, atau kini dijuluki Habib Husein Luar Batang.

“Adapun pada makam Habib Husein tertulis, Habib Husein bin abubakar bin Abdillah Alaydrus wafat pada hari kamis 27 Ramadhan 1169 H bersamaan dengan tanggal 24 Juni 1756” pungkas Daeng Mansur mengakhiri perbincangan singkatnya dengan Wartawan GMN.

@ diolah dari berbagai sumber

thumbnail

Diposting oleh On 11:42:00 PM

PEWARTA-TAMBORA.COM, JAKARTA - Dalam rangka Milad Perguruan Seni Bela Diri Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKS.PI) Kera Sakti yang ke 38 pengurus cabang perguruan IKS PI Kera Sakti gelar berbagai Atraksi dan donor darah di Lokbin UKM Taman Kota Inten, Jakarta Barat, Minggu (1/4/2018).

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Pengurus Pusat Madiun, Tokoh Agama, Tokoh masyarakat, serta Ratusan Kader perguruan IKS PI Kera Sakti Sejabodetabek dan juga jajaran pengurus Cabang lainnya.

Ketua Panitia HUT IKS.PI ke 38, Joko Santoso menyampaikan, rasa terima kasihnya kepada pihak pendukung, juga berharap semoga acara giat HUT IKS.PI Ke 38 ini semakin berkembang dan semakin jaya, khususnya cabang DKI Jakarta.

Dikatakan Ketua Panitia, perkembangan perguruan kita alhamdulillah mulai tahun 1984 sudah bergabung di IPSI dan kita pernah menjuarai setiap event-event di IPSI baik ditingkat kota maupun tingkat kabupaten.

Dalam akhir wawancaranya bersama tim GMN, Ketua Panitia menyampaikan, selamat Ulang Tahun untuk IKS PI Kera Sakti yang ke – 38, “marilah kita tingkatkan akhlakul karimah serta meningkatkan Rasa persaudaraan kita bagi seluruh kader dan kepada seluruh masyarakat,” Pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pantauan tim GemaMedia Network (GMN) tampak puluhan kader perguruan IKS.PI dan juga masyarakat antusias mengikuti giat donor darah, dalam rangkaian HUT ke 38 IKS.PI Kera Sakti juga menggelar berbagai atraksi lainnya seperti pecah batu bata serta atraksi lainnya. (tisna/red)

thumbnail

Diposting oleh On 1:25:00 AM

Karnaval Cap Go Meh 2018, Minggu (4/3/2018)
PEWARTA-TAMBORA.COM, JAKARTA- Ratusan masyarakat tampak antusias memadati kawasan Glodok, Jakarta Barat, Minggu (4/3/2018) sore, untuk menyaksikan pertunjukan puncak perayaan Karnaval Cap Go Meh 2018.

Tidak hanya warga Jakarta dan sekitarnya yang turut menyaksikan acara Perayaan Cap Gomeh 2018, tampak wisatawan mancanegara pun turut menjadi bagian antuasisme bersama warga lainnya, untuk menyaksikan pertunjukan karnaval tersebut.

Karnaval Cap Gomeh 2018, yang dimulai sejak pukul 12.00 WIB hingga sekira pukul 18.00 WIB. juga dihadiri sejumlah tokoh nasional yang meliputi Bamsoet, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang (OSO), Agum Gumelar, Charles Honoris, Menkominfo RI Rudiantara, Menko PMK RI Puan Maharani.

Adapun Rute parade dimulai dari Jalan Pancoran menuju Jalan Hayam Wuruk kemudian menuju ke arah Jalan Gajah Mada dan berakhir di depan Gedung Novotel.

Dalam keterangannya, Politikus Partai Golkar, Bamsoet menegaskan, tidak ada satupun [pihak yang bisa memisahkan persatuan dan kesatuan yang telah lama terjalin. Sehingga ia meminta agar masyarakat tetap merajut tali silaturahmi demi menjaga keutuhan bangsa.

"Kita satu kesatuan yang tak terpisahkan, persaudaraan sebagai sesama anak bangsa harus tetap dirajut dan dijaga bersama," kata Bamsoet. Pada perayaan Cap Gomeh 2018, Minggu (4/2/2018).

Dikesempatannya, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan (Zulhas) juga mengatakan sejak dahulu Indonesia sudah menjadi bangsa yang menghargai perbedaan."Sejak dulu, kita adalah bangsa yang toleran, kita bukan bangsa yang radikal, kita saling menghargai dan menghormati," ujarnya.

Pantauan Tim GMN (GemaMedia Network) Perpaduan budaya Mulai dari reog ponorogo, hingga tradisi joli atau tandu yang membawa dewa dan dewi yang diarak dalam karnaval tersebut, hingga semakin menambah semarak suka cita perayaan Cap Go Meh kali ini. (rls/her)